Malindo Raya Industrial Gandeng Universitas Malang Tingkatkan Pemanfaatan Limbah Pabrik

oleh

Perjanjian kerjasama PT MRI dan UM diwakilkan Rektor Universitas Negeri Malang, Rofi’uddin dan Direktur Utama MRI, Arief Goenadibrata yang sepakat mengelola limbah untuk dimanfaatkan dan berdayaguna.

 

 

MALANG, kilasjatim.com: PT Molindo Raya Industrial (MRI), produsen ethanol di Lawang Jawa Timur, menyerahkan hasil limbah pabriknya kepada
pihak Universitas Negeri Malang (UM) untuk dikelola dan bermanfaat serta berdaya guna untuk masyarakat.

Kerjasama dengan Universitas Negeri Malang (UM) yang dilakukan antara
Rektor Universitas Negeri Malang, Rofi’uddin dan Direktur Utama MRI, Arief Goenadibrata. Kerja sama dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau MoU antara Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UM dengan MRI, berlangsubg di ruang rektorat UM, Senin (16/07/2018).

Direktur Utama MRI, Arief Goenadibrata mengatakan dipilihnya UM dalam hal pengelolaan limbah karena memiliki kelengkapan dalam hal riset. Mengingat kerja sama ini fokus pada proses teknologi industri alkohol, gula atau asam organik, dan teknologi pengolahan limbah.

“Kami sudah mencoba melalukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di Jatim namun pilihannya jatuh pada UM karena selain dekat dengan lokasi pabrik juga memiliki kelengkapan alat uji. Kerjasama ini sudah berjalan kami menggandeng para akademisi UM sebagai partner untuk meningkatkan pemanfaatan limbah pabrik, terutama limbah cair,” kata Arief usai penandatangan MoU.

Rektor UM Prof Dr AH Rofi’uddin MPd menambahkan, kerja sama ini merupakan momentum yang tepat bagi perguruan tinggi.

“Saatnya perguruan tinggi harus mau memenuhi hajat hidup orang banyak. Harus sambung dengan dunia industri dan usaha,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Mineral dan Material Maju UM, Fachtur Rohman, mengatakan, kerja sama dilanjutkan dengan riset untuk membuat produk yang berguna bagi masyarakat. Riset akan dititikberatkan pada proses teknologi industri alkohol, gula ataupun asam organik, dan teknologi pengolahan limbah.

“MoU akan berlaku selama tiga tahun. Tujuan riset ini untuk membangun kerja sama saling menguntungkan guna peningkatan pemanfaatan hasil produksi dan limbah Molindo,” jelasnya.

Pada kesempatan terpisah Arief menjelaskan, limbah yang dihasilkan Molindo dalam sehari mencapai 1,2 juta liter limbah cair yang bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.

Diantaranya bisa jadi sebagai pupuk pada tanam tebu atau bisa menghasilkan listrik sebesar 4,9 MW. Bahkan limbah tersebut jika diolah juga bisa digunakan sebagai pakan ternak dan lainnya.

Sebahaimana diketahui, MRI dalam hal ini juga telah membangun komitmen perusahaan yang bersifat green manufacturing.

“Di satu sisi, kami tingkatkan efisiensi material dan energi pada proses produksi. Sisi lain, kami juga meminimalkan kerusakan lingkungan hingga titik nol,” papar Arief.

Dalam hal pengelolaan limbah MRO mengaku cukup serius, diantaranya pada 2009 membuat green house seluas 3 hektare. Di lahan itulah dilakukan pengeringan limbah secara natural yang kemudian dicampur dengan bahan lain untuk dijadikan pupuk organik.

Perseroan juga memutuskan untuk meningkatkan tantangan di sisi pengelolaan limbah. Yaitu, pengelolaan limbah vinase cair. Limbah vinase cair yang dihasilkan MRI ke depan akan diolah menjadi sumber energi listrik dengan mesin boiler vinase dari teknologi India. Proses pembangunan boiler vinase tengah berlangsung dan ditargetkan beroperasi awal 2019.

Vinase boiler mampu menghasilkan 56 ton uap yang akan dikonversi menjadi 4,9 MW listrik. Jumlah itu akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik sekitar 4,5 MW. (kj4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *