Lembaga Riset Stats Me : 84 Persen Masyarakat jatim khawatir trend penyebaran covid-19

oleh

KILASJATIM.COM, Surabaya – Masyarakat di Provinsi Jawa Timur semakin cemas dengan tren penyebaran Covid-19. Berdasarkan hasil survei Lembaga Riset Stats Me, sebanyak 84,83 persen responden menyatakan khawatir dengan tren perkembangan Covid-19 di Jatim yang semakin meningkat. Adapun sisanya menyatakan tidak khawatir.

”Dalam situasi seperti saat ini, wajar memang jika mayoritas masyarakat merasakan kekhawatiran dan keresahan, karena di samping faktor kesehatan, dampak pandemi ini sangat luas memengaruhi kehidupan sosial-ekonomi warga,” ujar analis Stats Me, Aulia Dwi Rahayu.

Aulia mengatakan, pihaknya juga meriset faktor-faktor yang membuat masyarakat khawatir dan resah. Ada empat faktor yang ditemukan untuk dianalisis, yaitu khawatir harga kebutuhan sehari-hari semakin mahal, kehilangan pekerjaan/pendapatan, diri sendiri atau keluarga terjangkit Covid-19, dan kesulitan untuk pergi ke tempat ibadah.

”54,77 persen responden menyatakan khawatir dan sangat khawatir kehilangan pekerjaan atau pendapatan,” ujar alumnus Statistika Universitas Airlangga, Surabaya, tersebut,

Adapun untuk faktor kekhawatiran diri sendiri atau keluarga terjangkit Covid-19, 64 persen responden khawatir dan sangat khawatir.

”Dari temuan ini, kita bisa membaca bahwa masyarakat menginginkan keseimbangan langkah penanganan, baik itu terkait aspek kesehatan maupun ekonomi,” ujar Aulia.

Lantas apa kebutuhan masyarakat di masa pandemi? Survei ini menyebutkan, 38,48 persen masyarakat berharap bahan pokok bisa terpenuhi, 34,55 persen menyebut internet, dan 20,79 persen menyebut barang-barang terkait kesehatan.

”Kita bisa melihat bahwa pengeluaran terbesar masyarakat di masa pandemi ini adalah untuk kebutuhan bahan pokok, kemudian biaya internet. Di masa pandemi ini, keperluan kesehatan juga menghabiskan biaya lebih banyak daripada keperluan lain-lain, seperti pembayaran cicilan dan transportasi,” papar Aulia.

Dia menambahkan, sejauh ini tingkat kepuasan masyarakat terhadap penanganan Covid-19 oleh pemerintah relatif tidak tinggi. Sebanyak 51,97 persen masyarakat menilai respons pemerintah pusat terhadap penanganan Covid-19 sudah baik. Adapun untuk respons pemerintah daerah, sebanyak 55,90 persen responden menyatakan sudah baik.

”Angka kisaran 55 persen kalau dalam kacamata survei kepuasan publik bisa dibilang relatif tidak tinggi. Biasanya, untuk penanganan seperti pelayanan publik, pendidikan, kesehatan di masa normal, masyarakat menilai pelayanan pemerintah sudah baik di angka kisaran 60-70 persen, bergantung daerahnya,” ujarnya.

Selama masa pandemi, lanjut Aulia, Sebanyak 53,65 persen masyarakat mengakses informasi dari media sosial, media konvensional (online, cetak, televise, radio) 28,65 persen, dan situs resmi pemerintah 17,70 persen.

”Data ini agak mengkhawatirkan jika tak diiringi dengan literasi digital warga, mengingat banyak sekali hoaks berseliweran di media sosial terkait Covid-19. Sumber informasi yang layak dan benar akan sangat memengaruhi sikap warga dalam menghadapi pandemi Covid-19. Orang bisa keliru bersikap jika termakan hoaks. Ini menjadi tantangan kita bersama,” ujarnya.

Survei ini melibatkan 400 responden di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dengan menggunakan teknik Slovin untuk pengambilan sampel. Survei digelar pada 1-6 Mei melalui telepon. Margin of error survei sebesar 5 persen. (kj4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *