Layanan Epilepsi Center National Hospital, Para Epilepsy Survivor Dapat Penanganan Paripurna

oleh -1 Dilihat

Dr Heri Subianto ((tengah pegang piagam) saat soft launching Epilepsy Center (EPIC) National Hospital Kamis (28/4/2022) yang berikan pelayanan dan penanganan secara komprehensif dan paripurna bagi penderita epilepsi. (kilasjatim.com/Nova)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kabar gembira bagi penderita epilepsi , kini National Hospital memperluas pelayanan kesehatan Epilepsy Center (epic) tujuannya agar para Epilepsy survivor dapat penanganan secara komprehensif dan paripurna.

Di rumah sakit yang terletak di kawasan Surabaya Barat ini, penderita epilepsi akan mendapatkan penanganan tindakan secara tepat, mulai dari screening epilepsi, obat obatan hingga tindakan operasi.

Tindakan operasi sebagaimana dikatakan dr Heri Subianto SpBS (K), Spesialis Bedah Saraf, dibutuhkan sebagai tindakan yang bisa mengurangi kejang pada penderita epilepsi.

“Dengan tindakan operasi setidaknya akan mengurangi konsumsi obat obatan pada penderita,” ujar dr Heri di sela soft launching Epilepsy Center (Epic) National Hospital Kamis (28/4/2022).

Lebih jauh dr Heri Subianto menjelaskan, Epilepsi identik dengan kejang, namun yang perlu diketahui epilepsi dan kejang adalah dua hal yang berbeda. Jika gejala kejang belum tentu tanda dari penyakit epilepsi.

“Kejang merupakan gejala klinis yang menandakan kerja otak yang berlebihan. Jadi epilepsi ditandai dengan kejang, tapi kejang belum tentu epilepsi,” ujarnya.

Hal tersebut dikatakan dokter spesialis bedah saraf konsultan fungsional, epilepsi dan bedah epilepsi, pengobatan terhadap penderita epilepsi adalah dengan obat obatan hingga tindakan operasi.

“Pengobatan epilepsi pertama adalah obat-obatan lalu pembedahan (operasi). Dua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam pengobatan epilepsi. Pasien epilepsi yang sering kejang-kejang tentunya harus diberikan obat terlebih dahulu. Bila sudah mengkonsumsi obat, tapi masih sering kejang-kejang tentunya harus dicari area otak mana yang konsleting dengan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan tersebut antara lain CT Scan dan MRI. ”
Kalau memang masih kebal obat akan dilakukan pembedahan epilepsi,” paparnya didampingi de Neinny Novitasari SpN, spesialis saraf dan dr Fransisca Notoouro Sp.Rad , spesialis radiologi.

Menurut d Heri, pembedahan epilepsi ini bisa mengurangi potensi kejang 70 sampai 80 persen dan bebas obat hingga 40 persen. Sayangnya, teknik pembedahan ini belum banyak diketahui masyarakat. Padahal dengan teknologi tersebut, efektif dapat mengurangi kejang-kejang yang dialami dan membuat pasien lebih nyaman.

Seseorang dikatakan sembuh dari epilepsi bila tidak mengalami kejang selama 10 tahun tanpa mengonsumsi obat dalam jangka 5 tahun terakhir.

“Atau mereka yang mengalami epilepsi periodik bisa sembuh seiring bertambahnya usia. Misalnya usia tiga atau lima tahun terkena epilepsi, di usia 15 tahun sudah tidak pernah kejang lagi. Berarti dia dinyatakan sembuh dari epilepsi,” pungkas dr Heri. (kj2)

No More Posts Available.

No more pages to load.