Lawan Eksploitasi Kars Lewat Media Pembelajaran

oleh
Sejumlah Mahasiswa Pecinta Alam (MAHIPAL) Universitas Ronggolawe (UNIROW) Tuban saat membuka acara Roadshow Stasiun Nol Festival 2020.

KILASJATIM.COM, Tuban – Mahasiswa Pecinta Alam (MAHIPAL) Universitas Ronggolawe (UNIROW) Tuban, menggelar Roadshow Stasiun Nol Festival 2020 : Chapter Tuban yang diikuti oleh peserta dari berbagai kota di Indonesia.

Kegiatan tersebut digelar selama tiga hari di dua lokasi yang berbeda. Pada hari pertama acara akan digelar di Kampus UNIROW Tuban untuk pengenalan materi, dan pada hari kedua kegiatan akan dilakukan di lapangan sehari penuh, yaitu di puncak Ngipeng, Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, dan pada hari ketiga kembali ke kampus untuk materi pengolahan data.

Penanggungjawab acara Stasiun Nol Festival 2020, Kharisma Yuda saat dikonfirmasi, Jumat (13/03)  mengatakan, kegiatan ini merupakan festival pemetaan gua tingkat nasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai kota. Tujuanya, untuk memperkenalkan bahwa Tuban itu kaya.

“Kegiatan juga untuk mengangkat lagi potensi Tuban sebagai Kota Seribu Gua. Setiap tahun kami juga selalu mengadakan event, bahkan setiap bulan selalu saja ada tamu dari luar kota karena Tuban merupakan surga bagi penelusur gua,” terang Yuda.

BACA JUGA: Lapas Tuban Gelar Screening

Yuda menambahkan, kegiatan tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena lebih difokuskan pada pendataan kars dan mapping gua, sedangkan tahun-tahun sebelumnya lebih pada segi petualangannya.

“Tahun-tahun sebelumnya para senior Mahipal Unirow juga sudah pernah melakukan pendataan, namun tahun ini lebih ditingkatkan secara digital melalui peta satelit,” bebernya.

Menurut Yuda, ada sekitar 37 peserta yang datang dari berbagai wilayah, mulai dari yang paling jauh datang dari Banjarmasin, Denpasar, Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan beberapa kota lain yang rata-rata adalah alumni dan para senior, serta beberapa mahasiswa yang masih aktif.

Yuda menerangkan, materi yang akan disampaikan dalam kegiatan ini adalah tentang peta gua dan pemanfaatannya, interpretasi peta permukaan, interpretasi peta gua, basis data spasial speleology, pemetaan gua tematik, serta pengolahan data pemetaan digital.

BACA JUGA: BNNK Tuban dan Aparat Gabungan Razia Tempat Hiburan Malam

Lebih jauh dia menjelaskan, pemilihan Gua Ngipeng, Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek sendiri dikarenakan beberapa alasan, terutama faktor keamanan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu. “Selain itu di sana juga ada sebaran berapa gua yang cukup dekat dan aman,” ujarnya.

Hasil dari kegiatan tersebut, terangnya,  adalah adanya peta sebaran gua di Kabupaten Tuban. Bukan hanya sebatas mengetahui jumlah gua, namun lebih detail pada pengklasifikasian jenisnya.

Dengan demikian, ia melanjutkan, akan bisa diketahui titik mana saja yang memiliki potensi wisata, mana yang berbahaya, mana yang cocok untuk adventure, bahkan bisa diketahui titik-titik gua yang harus dilindungi dari penambangan kars.

“Fakta keberadaan kars di Tuban semakin hancur, dicoba dilawan melaui metode pembelajaran semacam ini oleh para mahasiswa dan aktivis pecinta alam yang terlibat dalam kegiatan tersebut,’’ cetusnya.

BACA JUGA: Awal Maret, Jalan Rusak di Tuban Segera Diperbaiki

Yuda menuturkan, dengan adanya data tersebut bisa dibuktikan dengan pemetaan, potensinya seperti apa, dan diharapkan ada form khusus untuk tambang masuk karena menurut Permen ESDM Nomer 17 tahun 2012 tentang Penetapan Bentang Kawasan Kars merupakan kawasan lindung. (hms/kj23)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *