Kota Dalam Kepala Raudal

oleh

Malang, kilasjatim.com: “Saya jenuh menulis cerpen yang itu-itu saja. Saya ingin menulis cerpen yang berbeda biasanya, latar plot hanya pelengkap tokoh cerpen. Sekarang saya balik, latar menjadih tokoh utama,” begitu kata penulis Raudal Tanjung Banua, dalam bincang buku kumpulan cerpen Kota-Kota Kecil Yang Diangan dan Kujumpai karyanya di Kafe Pustaka, Universitas Negeri Malang, Rabu (20/2) malam.

Menurut penulis yang pernah bekerja sebagai jurnalis pada Harian Semangat dan Haluan, terbitan Padang, kumpulan tulisan itu ia susun selama delapan tahun. Bentuknya berupa catatan perjalanan. Yang membedakan dalam buku tersebut dengan travel book lain adalah kisah yang ditampilkan.

Jika dalam catatan perjalanan lain menceritakan  makanan, harga tiket, berkaitan dengan biaya pengeluaran menuju daerah itu. Raudal, memilih mengisahkan lokasi, suasana kota bangunan, pasar dan kehidupan masyarakat setempat.

Buku yang disusun selama delapan tahun ini, terinspirasi dari buku Kota-Kota Imajiner karya Italo Calvino. Penyusunannya dilakukan saat perjalanan jurnalistik, menjadi pembicara dan perjalanan menggunakan becak bersama tiga rekannya di Padang. Dalam perjalanan tersebut ia tetap membuat laporan jurnalistik, seperti kesulitan warga menjual pisang saat panen raya, masalah penerangan di desa, data selebihnya ia tabung  dalam bentuk puisi, cerpen maupun catatan kaki. Dari remah-remah itulah buku tersebut disusun.

Pegiat komunitas Rumah Lebah Yogyakarta ini mencatat, perubahan wajah kota di Indonesia diawali dari pemekaran wilayah, dengan terbentuknya kota baru. “Bayangkan, dulu ibukota kecamatan, lantas jadi ibu kota kabupaten. Desa yang penduduknya sedikit jadi kota kecamatan yang di tuntut harus maju. Lantas pembangunan fisik dilakukan tanpa membuat perencanaan tata kota yang benar,” katanya.

Percepatan semacam itulah yang membuatnya khawatir tergesernya kearifan budaya lokal. Sementara pemerintah berupaya mengembalikan kebudayaan lokal sebagai identitas bangsa.

“Kota Rawa di Kalimantan, pusat ekologi. Manusia tinggal di atas rawa, hidup dari menangkap ikan bercocok tanam khasnya. Sekarang mau diuruk. Ini kan tidak benar, kalau musim hujan bagaimana, banjir kan. Air ditampung  di mana, kalau rumah permanen dibangun di sana,” terangnya.

Selain itu, ia mencatat dari setiap kota kecil berpenduduk kurang dari 500 ribu, hampir semua warganya berharap, jika desanya jadi kota lebih besar kesejahteraan akan lebih baik. Nyatanya tidak, seperti di Sulawesi, desa menjadi ramai, banyak pendatang hutan dibuka untuk kelapa sawit, begitu pula ladang. Akibatnya hidup tidak lebih baik, warga tetap sulit secara ekonomi.

Penulis antologi cerpen Ziarah Bagi Yang Hidup ini khawatir, kota Yang dibangun tanpa encana tata rusng baik akan ditinggalkan nantinya. Seperti pulau Bangka yang dibangun untuk keperluan penambang timah. Saat pertambangan melimpah kota dihidupkan dengan semua fasilitas pemerintah dan listrik gemerlap. Setelah timah habis, tidak menjanjikan. Kota itu di tinggalkan. Mayoritas pendatang pergi, fasilitas pergi, listrik pun padam, tak seperti dulu.

“Saya curiga, menutupi semua itu beredarlah kisah mistis. Kalau leluhur kota ini masih mengamati dari atas. Penduduk pun percaya, nah yang rugi mereka juga. Melalui sastra saya coba ingatkan agar kejadian itu tidak terulang,” terang pria kelahiran Sumbar, 19 Januari 1975 ini.

Sementara pembicara lain Yusri Fajar, menyampaikan buku tersebut menjadi menarik karena narasinya ditulis dengan sentuhan puitik. Kritik sosial disampaikan tidak dengan data, tapi secara psikologis melalui tokoh aku. Seolah-olah pembaca berada sebagai pelaku dalam cerita itu. Itulah yang membedakan tulisan Raudal dengan hasil penelitian. (Titik Qomariyah)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *