Komisi A Desak Pemkot Perketat Mitigasi Bencana Jelang Puncak Musim Hujan

oleh -624 Dilihat

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko atau Cak Yebe, mendesak Pemkot Surabaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan November–Desember yang diprediksi disertai anomali cuaca ekstrem. Ia menilai mitigasi bencana harus dilakukan secara berlapis hingga tingkat kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan.

“Anomali cuaca membuat pola hujan tidak stabil. Mitigasi harus ketat, tidak bisa hanya mengandalkan BPBD kota, tapi harus sampai kecamatan dan kelurahan,” ujar Cak Yebe, Kamis (20/11/2025).

Menurutnya, potensi angin kencang, genangan, hingga pohon tumbang menuntut perangkat wilayah meningkatkan patroli dan pemetaan titik rawan. Lurah dan camat diminta memastikan seluruh saluran lingkungan bersih untuk meminimalkan hambatan aliran air sejak awal.

“Respons awal itu sangat menentukan, terutama pada menit-menit pertama ketika hujan ekstrem turun,” tegasnya.

Cak Yebe juga menyoroti pentingnya kesiapan peralatan mitigasi di setiap kelurahan, mulai pompa portabel, gergaji mesin, lampu darurat hingga pelampung. Ia menilai alat-alat dasar tersebut harus tersedia dan dapat digunakan kapan saja tanpa menunggu bantuan BPBD.

“Respons cepat di lapangan itu kuncinya,” ujar Wakil Ketua DPC Gerindra Surabaya ini.

Tak hanya perangkat wilayah, edukasi kepada masyarakat melalui RT/RW juga diminta diperkuat. Warga harus diberi penjelasan mengenai langkah aman saat hujan lebat, lokasi titik kumpul, hingga mekanisme pelaporan melalui Command Center 112.

“Informasi yang cepat bisa menyelamatkan nyawa. Edukasi warga itu bagian dari mitigasi paling efektif,” tambahnya.

Cak Yebe juga menyoroti kondisi Command Center Surabaya yang mengalami gangguan teknis. Sebanyak 31 monitor yang mengawasi 124 titik CCTV dilaporkan mati sehingga ruang kendali kehilangan kemampuan memantau banyak lokasi vital secara real time.

Baca Juga :  Museum Nasional Kebakaran, Pihak Pengurus Langsung Menutup Museum

Ia menilai kondisi ini sangat berbahaya di tengah ancaman cuaca ekstrem, karena operator membutuhkan visual penuh untuk mendeteksi banjir mendadak, pohon tumbang, maupun gangguan lalu lintas.

“Monitor yang mati harus segera diganti. Operator Command Center perlu melihat seluruh titik vital agar BPBD bisa cepat antisipasi saat situasi darurat,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sistem kendali kota merupakan tulang punggung mitigasi modern. Bila perangkat kunci tidak bekerja optimal, maka kecepatan respons bisa terhambat dan menimbulkan risiko tambahan bagi warga.

Komisi A memastikan akan memanggil dinas terkait untuk mengevaluasi kesiapan peralatan mitigasi, termasuk perbaikan Command Center. Ia berharap seluruh perangkat siap bekerja maksimal sebelum puncak musim hujan benar-benar berlangsung.

“Kami tidak ingin ada kelalaian teknis yang membuat respons bencana terlambat. Semua perangkat harus berfungsi 100 persen karena keselamatan warga adalah prioritas,” tutup Cak Yebe.( FRI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.