Kinerja Ekspor Non Migas di Jatim Maret 2023 Alami Penurunan 21 Persen

oleh -1180 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dalam tiga bulan pertama tahun ini tren kinerja ekspor  non migas Jatim cenderung mengalami penurunan dibandingkan periode sama tahun lalu. Pada Maret 2023 saja, capaian ekspor nonmigas Jatim tercatat US$1,86 juta atau turun -11,21 persen dibandingkan Maret 2022 yang mampu mencapai US$2,09 miliar.

Demikian pula kinerja ekspor nonmigas Jawa Timur di sepanjang kuartal I/2023 tercatat sebesar US$5,05 miliar atau mengalami penurunan dibandingkan kuartal I/2022 yang mampu mencapai US$5,64 miliar.

Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan, mengatakan jika dibandingkan dengan capaian ekspor pada Februari 2023, ekspor Maret ini naik 18,78 persen. Ekspor nonmigas selama Maret 2023 tersebut, terdiri dari ekspor sektor pertanian sebesar US$77,41 juta naik 19,42 persen (month to month/mtm) tetapi turun -12,90 persen (year on year/yoy),” ujar Dadang Senin (17/4/2013).

Disusul sektor industri pengolahan US$1,76 miliar naik 18,16 persen (mtm), tetapi turun -11,28 persen (yoy), dan sektor pertambangan dan lainnya US$11,73 juta atau naik 378,67 persen (mtm) dan naik 18,28 persen (yoy).

Adapun golongan barang dari Jatim yang mengalami peningkatan ekspor yakni berbagai barang logam tidak mulia, tembaga, perhiasan/permata, ikan, krustasea dan moluska, serta bahan kimia organik. Sedangkan golongan barang yang mengalami penurunan permintaan pasar ekspor yakni gula dan kembang gula, berbagai produk kimia, garam, belerang batu dan semen, besi dan baja, serta kendaraan dan bagiannya.

Sementara negara tujuan ekspor yang mengalami peningkatan permintaan barang dari Jatim di antaranya adalah Chili, Jepang, Amerika Serikat (AS, Vietnam dan India. Negara yang mengalami penurunan permintaan barang dari Jatim yakni Taiwan, Korea Selatan, Mesir, Bangladesh dan Singapura.

Baca Juga :  Legenda Bernama Beckenbauer

“Sepanjang kuartal I ini, pangsa pasar ekspor Jatim terbesar dikontribusi oleh Jepang 17,42 persen, AS 13,95 persen, China 13,68 persen, dan disusul Malaysia, India, Vietnman, Korea Selatan, Singapura, Australia, dan Thailand, serta negara-negara di Uni Eropa 7,38 persen, dan Asean 17,87 persen,” pungkas Dadang. (nov)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.