KILASJATIM.COM, Surabaya — Di tengah gempuran film luar negeri dan dominasi produksi ibu kota, pemerintah tak tinggal diam. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) terus menyalakan api semangat di daerah, termasuk salah satunya di Surabaya dengan menggandeng sineas muda agar film menjadi penggerak ekonomi dan identitas budaya lokal.
Tenaga Ahli Mentri Bidang Perencanaan Keuangan dan Program Ekraf, Riwud Mujirahayu menegaskan bahwa subsektor film kini menjadi tumpuan utama dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Melalui fasilitas, pendampingan, dan kolaborasi lintas sektor, Kemenkraf berupaya menumbuhkan ruang baru bagi sineas muda di berbagai wilayah.
“Kami membantu dan memfasilitasi sineas muda agar dapat berkolaborasi, meningkatkan kualitas, dan memproduksi film pendek maupun panjang,” ujar Riwud dalam kegiatan Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal lewat Sinema di Surabaya, Rabu (12/11) di salah satu Biokop di Surabaya.
Menurutnya, pertumbuhan film nasional tidak bisa hanya bertumpu pada Jakarta. Ekonomi kreatif, kata Riwud, sejatinya tumbuh dari daerah. Karena itu, Kemenkraf memilih hadir langsung untuk memastikan para pelaku film lokal mendapat dukungan yang nyata, meski diakui masih ada keterbatasan dalam hal peralatan dan pembiayaan.
“Anggaran kami memang terbatas, tapi komitmen kami kuat untuk terus mengawal dan memfasilitasi sineas muda, khususnya di Surabaya,” ujarnya.
Sebagai bentuk nyata dukungan, Kemenkraf menjalin kerja sama dengan PARFI dan platform Vidio melalui program Akselerasi Kreatif yang membuka ruang promosi bagi film pendek anak muda daerah. “Tujuan kami bukan hanya agar mereka berkarya, tapi juga agar karya itu bisa menghasilkan pendapatan,” tambahnya.
Sementara itu, produser dan sineas asal Malang, Bayu “Skak” Eko Moektito, menilai generasi baru sineas daerah sudah siap bersaing di tingkat nasional. Ia menilai karya anak muda di Surabaya dan sekitarnya menunjukkan kematangan konsep meski dibuat dengan sumber daya terbatas.
“Dengan segala keterbatasan alat, hasil karya teman-teman di sini luar biasa,” ujar Bayu yang juga memperkenalkan film terbarunya berjudul Foufo, film dengan 70 persen dialog berbahasa Madura dan dibintangi aktor asli Pulau Garam.
Bayu percaya, film lokal tak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga bisa menggerakkan sektor lain seperti pariwisata, UMKM, hingga pengembangan SDM. Ia pun berencana menggarap film di berbagai daerah dengan bahasa daerah seperti Jawa Mataraman, Sunda, dan Bali.
“Dari film daerah, potensi wisata, UMKM, dan SDM lokal bisa ikut tumbuh. Film bisa menjadi lokomotif ekonomi dan budaya,” pungkasnya.(kar)









