Kadin Institute Jalin Kerjasama dengan IAIN Madura  

oleh
KADIN Institute dan FEBI IAIN Madura menandatangani MoU yang dilakukan oleh Direktur Kadin Institute, Dr Ir Jamhadi,MBA, dengan Dekan FEBI IAIN Madura, Dr Zainal Abidin, MEI.

KILASJATIM.COM, Pamekasan – KADIN Institute dan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) IAIN Madura sepakat untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), yang dilakukan oleh Direktur Kadin Institute, Dr Ir Jamhadi,MBA, dengan Dekan FEBI IAIN Madura, Dr Zainal Abidin, MEI.

“Kerjasama bukan hanya seremonial tapi bisa dilaksanakan dengan simbiosis mutualisme,” ujar Jamhadi yang diberi amanah oleh La Nyalla Mahmud Mattaliti menjadi KADIN Institute, usai penandatanganan MoU di IAIN Madura, Jalan Raya Panglegur Pamekasan, Senin(25/11).

Usai tanda tangani MoU, Jamhadi jadi pemateri dalam Seminar “Gebyar Entrepeneurship”: Peran Dan Tantangan Kaum Millenial Menjadi Entrepeneur Muslim yang diadakan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam IAIN Madura.

“Nantinya, hasil riset dari mahasiswa ataupun dosen IAIN Madura akan dibuat direktori riset. Riset yang bagus akan kami pertemuan dengan dunia industri untuk diimplementasikan skala banding 1 sehingga akan mengurangi cost industri dalam menerapkan R&D dan meningkatkan daya saing industri,” kata Jamhadi, yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag 45 Surabaya.

BACA JUGA: Kadin Surabaya dan Sekolah Muamalah Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah

Selain implementasi hasil riset, MoU antara Kadin Institute dengan FEBI IAIN Madura mencakup pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pemasaran produk, juga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Buatlah produk sendiri jangan hanya menjual produk impor. Buat produk makanan dan minuman dari bahan lokal, atau produk herbal. Bisa produk lainnya. Kami siap bantu permodalannya, perizinan, SNI, atau kelengkapan lainnya. Datanglah ke KADIN Institute,” ujar Jamhadi, Dewan Pembina Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur.

Jamhadi juga mengajak mahasiswa untuk melakukan hilirasi produk. Misalnya garam. Jika musim panen, harga garam anjlok dan bisa mencapai Rp 300 per kg atau Rp 4000 per sak.

“Sangat miris sekali kondisi petani garam. Inilah tantangan bagi mahasiswa dan akademisi IAIN Madura untuk bisa membuat hilirisasi garam, tidak hanya dibuat untuk kebutuhan rumah tangga. Secara nasional kebutuhan garam pada tahun 2018 sebanyak 3.388.703 ton, dan tahun ini ada stok masih 151.771 ton. Kebutuhan masih besar, dan peluang itu harus dicari benang merahnya,” ujar Jamhadi.

BACA JUGA: Kadin Kuatkan Usaha dan Industri  

Melalui hilirisasi produk, lanjut Jamhadi, ada add value bagi produsen atau pun pedagang. “Kadin Institute dan KADIN Jatim juga bisa bantu pemasaran ke beberapa ritel dan pabrik,” kata Jamhadi. (kominfo/kj12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *