KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak kembali terpilih untuk memimpin provinsi ini pada periode 2025-2030. Di periode keduanya, Khofifah mengusung visi besar bertajuk “Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara”, yang menegaskan posisi strategis provinsi ini sebagai pintu gerbang utama perdagangan antara Indonesia bagian barat dan timur.
Sebagai wilayah yang selama ini menjadi penyuplai utama komoditas pertanian dan produk industri ke Indonesia Timur, Jawa Timur kian strategis dengan perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Potensi ini menjanjikan peluang besar, namun juga menghadirkan tantangan yang perlu diantisipasi, terutama terkait progres pembangunan IKN yang belum maksimal.
Pemimpin Redaksi Ayojatim.com, Dr. Harliantara, M.Si, menilai visi ini membawa harapan besar, tetapi membutuhkan langkah konkret agar tidak sekadar menjadi wacana. Menurutnya, perlu kejelasan apakah Jawa Timur akan fokus sebagai penghubung ke IKN atau memperkuat perannya sebagai pusat ekonomi Nusantara secara lebih luas.
“Apakah Jawa Timur hanya menjadi pendukung IKN atau mengambil peran lebih besar sebagai pusat perdagangan nasional? Ini harus dirumuskan agar visi ini tidak kehilangan arah,” ujar Harliantara dalam diskusi Focus Group Discussion (FGD) “Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara, Peluang & Tantangan?” yang digelar Ayojatim.com di RKTP CAFE Surabaya, Jumat (7/3/2025).
Menjaga Konsistensi dan Implementasi
FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Jairi Irawan, Direktur Eksekutif Accurate Research And Consulting Indonesia (ARCI) Baihaki Sirajt, serta Ketua DPW PKS Jatim H. Irwan Setiawan.
Jairi menekankan bahwa visi “Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara” harus menjadi semangat yang menyatukan kebijakan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur agar selaras dengan rencana pembangunan provinsi. Ia mengingatkan pentingnya harmonisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di tingkat daerah dengan visi besar gubernur agar pembangunan berjalan efektif.
Baihaki Sirajt mengingatkan bahwa visi ini tidak boleh sekadar menjadi jargon politik. Ia menegaskan, masyarakat akan menilai keberhasilan Khofifah-Emil dari implementasi nyata, terutama dalam 100 hari pertama pemerintahan mereka.
“Jika tidak ada progres signifikan, masyarakat akan menganggap ini hanya sekadar slogan, sama seperti perdebatan soal IKN yang hingga kini masih tarik-ulur,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW PKS Jatim H. Irwan Setiawan optimistis bahwa visi ini bisa diwujudkan, asalkan ada kolaborasi erat antara pemerintah, swasta, partai politik, dan masyarakat. Menurutnya, Jawa Timur memiliki potensi besar dalam ekonomi, budaya, dan pariwisata yang bisa dioptimalkan.
“Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan serius. Pada periode pertama, meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti pandemi Covid-19, Bu Khofifah mampu meningkatkan berbagai indikator, seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan menurunkan angka kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem,” ungkap Irwan.
Dengan potensi besar yang dimiliki Jawa Timur, tantangan utama bagi kepemimpinan Khofifah-Emil adalah memastikan visi ini berjalan dengan langkah konkret. Keberhasilan mereka dalam periode kedua ini akan menjadi bukti apakah “Jawa Timur Gerbang Baru Nusantara” benar-benar menjadi kenyataan atau hanya sekadar retorika politik. (FRI)





