Jangan Remehkan Hepatitis Pada Anak , Ini Risikonya!

oleh

KILASJATIM.COM Jakarta – Ketika mendengar penyakit “hepatitis”, mungkin yang terlintas di benak Parents adalah penyakit yang biasa diderita orang dewasa, dan tak ada sangkut pautnya dengan Si Kecil. Namun, tahukah Parents? Ada sekitar 1,4 juta kasus Hepatitis A setiap tahunnya di dunia.

Angka kematian dari penyakit ini pun terus meningkat sejak tahun 1990 hingga tahun 2005. Pada akhir tahun 2019 lalu, Kota Depok bahkan menetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) karena banyaknya kasus hepatitis A yang menyerang masyarakatnya. Bukan hanya dewasa saja, kasus Hepatitis A yang ditemukan berjumlah 262 kasus ini sebagian besar menginfeksi siswa usia sekolah menengah pertama dan masyarakat di sekitarnya.

Apa risikonya jika Si Kecil terkena Hepatitis A? Parents tidak perlu panik, namun jangan juga meremehkan penyakit ini. Yuk, kenali Hepatitis A terlebih dahulu, agar dapat melindungi Si Kecil dari risiko terinfeksi.

Semudah itukah Si Kecil terkena Hepatitis A?
Agar Parents tidak salah mengerti, yuk, kita pahami terlebih dahulu bahwa Hepatitis A adalah infeksi pada organ hati yang bisa menyebabkan penyakit ringan sampai berat, yang disebabkan oleh virus Hepatitis A. Meskipun jarang terjadi, penyakit hepatitis A juga dapat menyebabkan kematian.

Meskipun kita lebih sering mendengar penyakit organ hati diidap oleh orang dewasa, bukan berarti Si Kecil tidak bisa terkena, lho. Siapa saja bisa terinfeksi virus Hepatitis A, baik orang dewasa maupun anak-anak. Menurut CDC, Hepatitis A dapat menginfeksi anak-anak, terutama yang tinggal di area dengan sanitasi rendah.
Apa hubungannya sanitasi dengan Hepatitis A? Virus Hepatitis A umumnya menyebar secara fecal-oral, artinya, Si Kecil dapat tertular Hepatitis A ketika memegang benda, mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi kotoran orang yang terinfeksi virus ini.

Beberapa skenario penularan Hepatitis A pada anak-anak yang biasanya terjadi adalah jika Parents terinfeksi –atau melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi—lalu menyiapkan/memasak makanan untuk Si Kecil tanpa mencuci tangan, atau tidak mencuci bahan makanan/minuman yang telah terkontaminasi virus hepatitis A terlebih dahulu dengan baik.

Nah, Parents, dari sini dapat disimpulkan bahwa memang semudah itu Si Kecil bisa terpapar dan terinfeksi virus Hepatitis A.
Apa yang akan terjadi jika kita terkena penyakit Hepatitis A?
Infeksi hepatitis A biasanya memang tidak menyebabkan penyakit hati jangka panjang (kronis) dan jarang berakibat fatal. Tapi, penyakit ini berpotensi menyebabkan gagal hati, terutama pada lansia dan orang yang sudah menderita penyakit hati kronis sebelumnya.

Jangan remehkan juga pengaruh virus ini terhadap fungsi organ hati. Parents tentu tahu dong pentingnya fungsi hati untuk tubuh kita, di antaranya:
Menghasilkan empedu untuk pencernaan lemak.
Menguraikan karbohidrat, lemak, dan protein.
Menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.
Mengaktifkan berbagai enzim.
Membuang bilirubin (zat yang dapat membuat tubuh menjadi kuning), kolesterol, hormon, dan obat-obatan.
Membentuk protein seperti albumin dan faktor pembekuan darah.
Menyimpan karbohidrat (dalam bentuk glikogen), vitamin, dan mineral.

Lantas, bagaimana kita bisa tahu kalau Si Kecil terinfeksi virus Hepatitis A?berdasarkan press release yang kami terima dari GlaxoSmithKline Pharmaceuticals,sebenarnya ada beberapa gejala yang bisa menunjukkan seseorang telah tertular virus Hepatitis A, seperti: demam, Kelelahan, kehilangan selera makan, Mual,

Muntah, Sakit perut, Urin berwarna gelap, Diare, Kotoran berwarna tanah liat, Nyeri sendi, Penyakit kuning (kulit dan mata menguning).

Sekitar 70% anak-anak di bawah usia 6 tahun tidak menunjukkan gejala-gejala ini ketika mereka menderita hepatitis A,. Selain itu, Si Kecil yang terinfeksi Hepatitis A tanpa terdeteksi gejalanya juga dapat menjadi sumber penularan virus ini kepada orang lain, apalagi virus hepatitis A mampu bertahan hidup di luar tubuh selama berbulan-bulan.

Bisakah kita mencegah penularan Hepatitis A?
Bisa. Cara yang paling efektif untuk mengatasi penyakit Hepatitis A, yaitu:
Memperbaiki sanitasi, yaitu penyediaan air bersih dan pembuangan limbah (dalam hal ini, tinja).
Biasakan untuk mempraktekkan kebersihan dasar yang baik –termasuk mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi, mengganti popok, dan sebelum menyiapkan atau makan makanan– untuk mencegah penyebaran virus hepatitis A.
Vaksinasi, terutama saat akan bepergian ke daerah dengan risiko penularan yang tinggi jika berasal dari daerah/negara dengan tingkat endemisitas rendah dan sedang.

Pentingnya pemberian vaksin Hepatitis A terutama ditekankan oleh WHO (WORLD HEALTH ORGANIZATION) yang merekomendasikan masuknya vaksin Hepatitis A ke dalam program wajib imunisasi nasional bagi anak yang berusia 1 tahun ke atas, yang tinggal di daerah dengan perubahan endemisitas Hepatitis A tinggi ke sedang.
Vaksin hepatitis A biasanya diberikan dalam 2 kali suntikan dengan selang waktu 6 bulan. Kedua suntikan vaksin ini dibutuhkanuntuk dapat memberikan perlindungan jangka panjang – Vaksin tak hanya untuk Si Kecil, tapi juga untuk Parents dan anggota keluarga lainnya. Kenapa vaksin penting bagi si Kecil, karena biasanya anak-anak kurang memperhatikan dan mempraktekkan kebersihan dasar yang baik.

Setelah memahami apa itu virus hepatitis A, dampaknya bagi Si Kecil, dan pentingnya pencegahan infeksi hepatitis A untuk Si Kecil. Untuk informasi lebih lanjut, sebaiknya Parents berkonsultasi dengan dokter anak.

3 Hal yang Parents Harus Tahu untuk Menghindari Risiko Rotavirus pada Anak.

Parents, terutama yang baru pertama kali menjadi orang tua, apakah pernah mendengar tentang Rotavirus? Jika ya, apa saja yang Parents ketahui tentang Rotavirus? Sebagian besar Parents mungkin akan menjawab diare, karena gejala ini merupakan gejala yang paling umum dialami Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus. Namun, implikasi infeksi Rotavirus tidak hanya sekadar diare saja, lho. Yuk, simak klarifikasi di bawah agar Parents dapat memahami lebih jauh mengenai Rotavirus yang dapat membahayakan Si Kecil.
Rotavirus = Diare? Bukankah diare pada anak hal yang biasa?
Rotavirus adalah virus yang sangat menular yang menyebabkan diare. Ini adalah penyebab paling umum diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia, yang mengakibatkan lebih dari 215.000 kematian setiap tahunnya.

Penjelasan sederhananya, Rotavirus adalah virusnya, sedangkan diare adalah gejala yang disebabkan oleh virus ini.
Penularan Rotavirus melalui jalur fecal-oral, atau dari feses penderita yang tidak sengaja masuk ke mulut orang yang sehat. Penularan Rotavirus sangat mudah dan seringnya terjadi tanpa Parents sadari, misalnya melalui kontaminasi air, makanan, minuman, dan benda-benda yang terkontaminasi di sekitar Parents dan Si Kecil.

95% anak di seluruh dunia biasanya telah terinfeksi Rotavirus ketika mereka mencapai usia 5 tahun, dan sebagian besar infeksi pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun.
Infeksi rotavirus biasanya dimulai dalam dua hari setelah terpapar virus. Gejala awal dari infeksi Rotavirus adalah demam (40⁰C atau lebih tinggi) dan muntah, diikuti oleh diare cair selama tiga hingga delapan hari. Selain demam, diare cair dan muntah , gejala-gejala infeksi Rotavirus lainnya dapat berupa lesu, rewel, badannya terasa nyeri serta tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, frekuensi buang air kecilnya sedikit atau tidak ada sama sekali, menangis tanpa air mata).

Si Kecil yang terinfeksi Rotavirus berat dapat mengalami muntah dan mengalami diare hingga 20 kali sehari, sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi berat. Untuk beberapa bayi, gejalanya sangat berat sehingga mereka harus dirawat di rumah sakit. Dehidrasi menyebabkan lebih dari 90% kematian akibat diare yang infeksius.Dengan kondisi ini, jelas infeksi Rotavirus bukan sekadar diare biasa, sehingga lebih baik bersiaga dan melakukan tindakan pencegahan, bukan?

Bisakah Rotavirus dicegah hanya dengan menjaga kebersihan/sanitasi?
Pemberian ASI eksklusif, mencuci tangan, akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan dapat membantu mencegah penyakit rotavirus, tetapi mungkin tidak cukup. Virus ini dapat bertahan hingga 2 bulan di luar tubuh manusia dan menyebar dari orang ke orang atau melalui permukaan yang terkontaminasi, termasuk mainan. Disinfeksi kimia mungkin bisa menghambat penyebaran Rotavirus. Namun, Parents harus memperhatikan jenis atau kandungan disinfektan yang digunakan, dan permukaan apa saja yang bisa diberi disinfektan. Penggunaan disinfektan juga harus mempertimbangkan keamanannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan, kompatibilitas dengan permukaan yang akan didisinfeksi, kemudahan penyimpanan dan aplikasi, serta rentang kemampuannya membunuh kuman atau virus.
Kesimpulannya, meskipun menjaga kebersihan itu penting, menjaga sanitasi lingkungan Parents saja mungkin tidak cukup untuk mencegah penyebaran dan penularan Rotavirus.

Adakah cara lain untuk mencegah infeksi Rotavirus pada anak?
Sebagian besar kasus infeksi Rotavirus terjadi sebelum usia 1 tahun. Si Kecil dilahirkan dengan sistem kekebalan yang dapat melawan sebagian besar kuman, tetapi ada beberapa penyakit mematikan yang tidak bisa mereka tangani. Itu sebabnya mereka membutuhkan vaksin untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka. Sebuah survei menunjukkan bahwa 92% bayi yang dirawat di rumah sakit karena infeksi Rotavirus belum pernah divaksinasi dan kebanyakan orang tua tidak mengetahui tentang vaksinasi Rotavirus. Padahal, diare rotavirus adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, lho. Dan perlu diketahui juga, ada batas usia untuk pemberian vaksin Rotavirus.Setelah melewati usia tersebut, Si Kecil mungkin tidak lagi memenuhi syarat untuk vaksinasi Rotavirus.

Vaksin Rotavirus diberikan secara oral, tidak disuntikkan, sehingga anak-anak tidak perlu takut menghadapi jarum suntik. Seperti pemberian vaksin lain, Parents disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan profesional untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kapan waktu yang tepat untuk memberikan vaksin Rotavirus, jenis vaksin, dosis, dan tata cara pemberian vaksin, serta informasi lainnya mengenai vaksin Rotavirus. (kj8).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *