Jalur Pendakian Gunung Semeru Masih Ditutup

oleh
Jalur pendakian menuju puncak Gunung Semeru.

KILASJATIM.COM, Lumajang – Masyarakat diminta untuk tidak memaksakan diri melakukan pendakian ke Gunung Semeru ataupun ke Ranu Kumbolo, karena hingga saat ini Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menutup jalur pendakian sampai dengan pemberitahuan selanjutnya.

“Kami minta agar masyarakat tidak maksa untuk melakukan aktivitas pendakian ke Gunung Semeru atau Ranu Kumbolo, sebab setelah dilakukan peninjauan, Tim Survei menemukan beberapa titik gangguan pada jalur pendakian,” ujar Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Wawan Hadi Siswoyo di kantornya, Kamis (21/11/2019).

Wawan juga menyampaikan, bahwa sehubungan dengan masih belum dibukanya Pendakian Gunung Semeru yang disebabkan oleh bencana alam akibat kebakaran hutan dan lahan beberapa waktu lalu, maka TNBTS mengeluarkan press release tentang penutupan jalun pendakian di Gunung Semeru.

Lanjut dia, Sabtu (16/11/2019) lalu, Tim Balai Besar TNBTS telah melakukan survei pendahuluan jalur pendakian Semeru, yang dimulai dari pintu masuk Pos Ong sampai dengan Kalimati, dengan kekuatan personil sebanyak 15 orang terdiri dari Personil TNBTS dan Relawan Semeru.

BACA JUGA: Jalur Pendakian Enam Gunung Dari Empat Gugusan Gunung di Jatim Ditutup  

“Di sana, kami menemukan beberapa titik gangguan pada jalur pendakian diantaranya pohon tumbang jenis acacia decurent, pohon tumbang akibat terbakar, longsoran tanah dan batu di Kemlandingan Dowo dan jalur pos tiga menuju pos empat arah Ranu Kumbolo,” katanya.

Menurut Wawan, di beberapa titik sepanjang jalur pendakian berdasarkan pengamatan tim survei masih memiliki potensi longsor, karena posisi jalur pendakian berada pada posisi tebing dan jurang dengan kondisi ikatan tanah bekas kebakaran hutan dan kemarau panjang masih belum stabil.

Sementara itu, di sepanjang jalur pendakian dan sekitarnya curah hujan belum intensif terjadi, sehingga kondisi tanah tersebut masih belum stabilnya dan akan sangat membahayakan pengunjung, karena berpotensi menimbulkan longsoran tanah, batu dan pohon tumbang jika hujan turun di lokasi pendakian.

“Kami harap, masyarakat bersabar dan tidak memaksakan diri untuk mendaki agar nantinya tidak terjadi hal-hal yang membahayakan. Dan, jika jalur pendakian telah kembali normal kondisinya, serta aman dilalui, pasti akan diumumkan kembali oleh Balai Besar TNBTS,” harapnya. (kominfo/kj16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *