Inovasi Teknologi Dongkrak Industri Batik Probolinggo

oleh -173 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Tim PM-UPUD dari Unitomo dan Unipra menghadirkan inovasi teknologi pengering infrared dan IPAL ramah lingkungan yang sukses meningkatkan efisiensi produksi serta penjualan batik di Kota Probolinggo.

Industri kreatif batik di Kota Probolinggo mendapatkan dorongan besar melalui program Pemberdayaan Mitra–Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) yang digagas dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas WR Supratman (Unipra). Program yang didanai Kemendiktisaintek tahun 2025 ini memfokuskan penerapan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan efisiensi biaya produksi batik.

Ketua tim PM-UPUD, Dr. Dra. Fedianty Augustinah, MM, menjelaskan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku UMKM menjadi kunci pembangunan ekosistem batik yang berkelanjutan. “Tujuan kami tidak hanya memperbaiki kualitas produk, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya dan peningkatan kapasitas produksi melalui teknologi tepat guna,” terang Ferdianty.

Fedianty menyebut mesin pengering Dry Room Infrared yang dikembangkan tim telah terdaftar sebagai paten sederhana di Kemenkumham. Alat tersebut mampu mengeringkan hingga 16 lembar batik dalam 10 menit dan menekan biaya produksi hingga 70 persen.

Tim juga menghibahkan alat pengering infrared dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kepada dua mitra utama, IKM Batik Wahyulatri dan Poerwa Batik di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.

Anggota tim, Dr. Ir. Suyanto, MM., ME., menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya berhenti pada inovasi alat.
“Kami memberikan pelatihan manajemen usaha, digital marketing, dan pembukuan berbasis akuntansi agar pengrajin mampu beradaptasi di era ekonomi digital,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep green economy juga diperkenalkan melalui IPAL ramah lingkungan untuk mengurangi pencemaran limbah batik. Hasil evaluasi awal menunjukkan kapasitas produksi meningkat 35–40 persen, penjualan digital naik 40 persen, dan muncul peluang kerja baru di sekitar lokasi produksi.

Baca Juga :  Caring and Enrichment, Program Doktor Psikologi Ubaya Loloskan Lima Doktor Psikologi

Dampak positif turut dirasakan para pengrajin. Eva Sugiarti, pemilik Batik Wahyulatri, mengatakan inovasi ini mengubah cara kerja mereka secara signifikan. “Dulu kami butuh waktu berjam-jam untuk mengeringkan kain batik, sekarang cukup 10 menit. Biaya listrik juga jauh lebih hemat, dan warna batik jadi lebih merata,” papar Eva. Eva menambahkan bahwa pendampingan digital marketing membuat usahanya mendapat pesanan dari berbagai daerah.

Melalui capaian ini, tim berharap model pemberdayaan berbasis teknologi tersebut dapat direplikasi di daerah lain. Fedianty menegaskan bahwa inovasi dalam industri batik tidak hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kami ingin batik Probolinggo tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi produk unggulan yang membanggakan daerah dan Indonesia,” tutup Fedianty.(tok)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News