Inflasi Rendah Dapat Dukung Perekonomian

oleh
Ilustrasi.

KILASJATIM.COM, Jakarta – Inflasi tetap rendah dan dapat mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2020 tercatat 0,28% (mtm), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,39% (mtm).

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakan, perkembangan ini dipengaruhi oleh kelompok inflasi inti yang rendah, kelompok administered prices yang kembali mencatat deflasi, serta inflasi volatile food yang melambat. Inflasi inti yang tetap rendah tidak terlepas dari konsistensi Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Deflasi kelompok administered prices berlanjut dipengaruhi oleh penurunan harga tarif angkutan udara dan Bahan Bakar Khusus. “Inflasi volatile food yang melambat terutama disebabkan oleh deflasi bawang merah serta inflasi aneka cabai dan beras yang melambat, di tengah peningkatan inflasi bawang putih dan daging ayam ras,” ujar Perry dalam rilisnya, Jumat (20/3).

Menurut Perry, dengan perkembangan tersebut, secara tahunan inflasi IHK tercatat tetap rendah 2,98% (yoy), meskipun sedikit meningkat dibandingkan dengan inflasi Januari 2020 sebesar 2,68% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran 3,0% ±1% pada 2020 dan 2021.

BACA JUGA: Bank Indonesia Sosialisasikan QRIS Kepada IWAPI

Sementara transmisi pelonggaran kebijakan moneter tetap berjalan baik dengan kecukupan likuiditas perbankan yang terjaga. Likuiditas di pasar uang dan perbankan memadai, tercermin pada rerata harian volume PUAB Februari 2020 tetap tinggi sebesar Rp14,05 triliun serta rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tetap besar yakni 21,47% pada Januari 2020.

Transmisi suku bunga ke pasar uang berjalan cukup baik, tercermin pada penurunan suku bunga PUAB O/N sebesar 126 bps menjadi 4,58% dan suku bunga JIBOR tenor 1 minggu sebesar 141 bps menjadi 4,83% sejak akhir Juni 2019, sebelum penurunan BI7DRR pada Juli 2019. Sementara itu, transmisi ke suku bunga perbankan juga berlanjut.

Masir menurut Perry, sejak akhir Juni 2019, rerata tertimbang suku bunga deposito turun 67 bps menjadi 6,16% pada Februari 2020, sementara suku bunga Kredit Modal Kerja turun 35 bps menjadi 10,07% pada posisi yang sama. Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2020 bergerak sejalan dengan pola pertumbuhan ekonomi, yakni masing-masing 7,76% (yoy) dan 7,09% (yoy).

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi di pasar uang, serta memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif,” pungkasnya. (kominfo/kj9)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *