Hikayat Selembar Tubuh, Jerit Hati Anak-anak Berhadapan dengan Hukum

oleh -320 Dilihat

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Lakon pementasan Hikayat Selembar Tubuh, yang Kamis (16/3/2023) dimainkan anak-anak Shelter Rumah Hati yang merupakan binaan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), tak ubahnya jeritan suara hati mereka yang berhadapan dengan hukum.

Pementasan psikodrama anak-anak binaan Rumah Hati berusia antara 13 tahun hingga 16 tahun ini, dimainkan dan dilakonkan oleh anak-anak yang berhadapan atau berkonflik dengan hukum. Ke empat anak-anak ini, masing-masing adalah Ilham, Charly, Gatan dan Linggar. Disertai dengan satu sosok membawa sapu, memakai kopiah dan sarung, yang memainkan peran sebagai perangkai antara satu adegan dengan adegan lainnya.

Gatan yang berasal dari keluarga sopir mengaku terlibat masalah sebagai akibat kurangnya pengawasan kedua orang tunya, sehingga masuk ke lembaga pemasyarakatan anak-anak. Ilham yang malas sekolah menjadikannya sering bersilang pendapat dengan sang ibu, dan berbuntut menjadi kriminal dan suka berantem. “Karena aku lebih suka mengutak-atik mesin sepeda motor, lalu untuk apa aku sekolah,” kata Ilham.

Tak jauh berbeda dengan Ilham, diceritakan bahwa Linggar juga ditangkap Polisi dengan tuduhan menjadi komplotan pencuri handphone, sekaligus juga sebagai penadah. Charly yang berasal dari luar Jawa, mengaku berangkat ke Jawa bersama sang Ibu dan Ayah tirinya. Meski pada akhirnga sang Ibu meninggalkannya. “Setiap kali melihat kotak amal di masjid, aku selalu berpikir bahwa itu uang Tuhan dan aku mengambilnya. Sampai suatu saat akhirnga kelakuan burukku itu dibuktikan Polisi yang menangkap aku,” ujar Charly.

Selama sekitar 1 jam 18 menit, lakon Hikayat Selembar Tubuh berulang kali menyuarakan isi hati dan jeritan suara hati anak-anak yang berlatih dan berproses didampingi satu diantaranya oleh Achmad Zainuri yang bertindak sebagai sutradara. “Saya ajak anak-anak ini disiplin berlatih. Karena sejatinya mereka ini memang selembar tubuh yang terus menerus bertahan dengan berbagai situasi yang mereka hadapi. Dari dalam penjara, hingg harus berhadapan dengan masyarakat,” terang Zainuri.

Baca Juga :  588 Lulusan Unitomo Wajib Terus Asah Kemampuan Agar Survive

Pementasan psikodrama ini, lanjut Zainuri juga merupakan bentuk katarsis. “Kalau mereka mampu bertahan dan survive dengan kondisi serta tekanan yang berat, latihan lalu pementasan ini semoga juga jadi bagian katarsis mereka,” tegas Zainuri.

Ditambahkan Prof. Dr. Yusti Probowati Rahayu satu diantara pendiri Shelter Rumah Hati sekaligus menjadi supervisi pementasan bahwa pementasan ini juga merupakan satu bentuk rehabilitasi bagi anak-anak berhadapan dengan hukum tersebut. “Ini adalah sarana buat mereka untuk bertanggung jawab. Selain itu, dengan menyampaikan aib yang masing-masing mereka lakukan diatas pentas dalam sebuah drama, diharapkan mereka belajar untuk memahami dan menerima diri sendiri, ” terang Prof. Yusti.

Pementasan yang juga mendapatkan pendanaan dari Korea Hope Foundation ini merupakan pementasan ke empat anak-anak Shelter Rumah Hati. Prof. Yusti berharap melalui pementasan ini, stigma buruk masyarakat soal anak-anak berhadapan dengan hukum bisa dihapuskan. “Semoga lewat drama ini, stigma buruk masyarakat terhadap anak-anak ini hilang. Dan anak-anak ini bisa diterima kembali oleh masyarakat lingkungannya,” pungkas Prof. Yusti.(tok)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News