KILASJATIM.COM, SURABAYA – Memasuki usia ke-12, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menegaskan komitmennya pada isu kesehatan masyarakat lewat Sidang Senat Terbuka yang digelar Rabu (13/8/2025) di Auditorium Kampus B Unusa Tower Lt.9. Acara ini diwarnai pidato ilmiah tiga dosen doktor baru yang seluruhnya membahas isu kesehatan strategis: diabetes, stroke, dan kematian ibu pasca persalinan.
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, memuji capaian Unusa yang melampaui usianya. Ia mengibaratkan perjalanan Unusa seperti membangun ruang dari satu titik, lalu garis, bidang, hingga menjadi ruang utuh yang bermanfaat. “Kita akan mengembangkan Unusa menjadi kampus unggul. Ke depan akan dibuka program PPDS Jantung, Obgyn, S2 Kesehatan Masyarakat, serta Pendidikan Profesi Gizi,” ujarnya.
Rektor Unusa menambahkan, keberhasilan pendidikan bergantung pada kemampuan membaca masa depan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. “Pada Harlah kali ini, kami mengangkat tema ‘Terus Berinovasi Meraih Kejayaan’,” tegasnya.
Dr. dr. Ardyarini Dyah Savitri, SpPD, FINASIM, mengupas pencegahan Penyakit Ginjal Diabetik (PGD) akibat DM tipe 2 yang memicu risiko tinggi penyakit ginjal kronis (PGK) hingga gagal ginjal terminal (GGT). “Pembiayaan perawatan PGK dan GGT akibat DM tipe 2 di Indonesia mencapai Rp 11 triliun pada 2024, melonjak dari Rp 6,5 triliun pada 2019,” jelasnya.
Ardyarini menyoroti lonjakan prevalensi DM tipe 2 di Indonesia yang pada 2023 mencapai 11,7% dari 5,7% pada 2007. Ia menyarankan terapi farmakologi sesuai rekomendasi PERKENI, namun menekankan potensi bahan alami seperti buah stroberi yang kaya antioksidan. “Stroberi dapat mengontrol gula darah, tekanan darah, kadar lemak, dan mengurangi stres oksidatif. Namun penggunaannya tetap harus berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.
Dr. Yurike Septianingrum, S.Kep., Ns., M.Kep., mengungkapkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian ketiga tertinggi di dunia dan penyebab utama kecacatan. “Lebih dari 77 juta orang hidup dengan riwayat stroke, dan 3,3 juta meninggal setiap tahun akibat stroke iskemik,” paparnya.
Di Indonesia, prevalensi stroke 2018 mencapai 10,9% atau lebih dari 2,1 juta orang dewasa, dengan Jawa Timur termasuk provinsi tertinggi. Yurike mengembangkan Model Dukungan Manajemen Diri Berbasis Perawatan Transisi untuk meningkatkan kemandirian pasien. “Perawatan transisi membekali pasien dan keluarga agar tidak hanya menjadi penerima pasif, tapi subjek aktif yang mampu merawat diri,” katanya.
Dr. Agus Aan Adriansyah, S.KM., M.Kes., menyoroti kematian ibu pasca persalinan, di mana lebih dari 65% terjadi pada masa nifas akibat komplikasi yang tak tertangani optimal. Ia menemukan capaian kunjungan postnatal care (PNC) di sejumlah puskesmas masih rendah, bahkan lebih dari 20% belum mencapai target. Agus Aan menawarkan model social competence bagi bidan, yang mengintegrasikan keterampilan teknis dan kemampuan sosial-emosional seperti empati, komunikasi efektif, dan kemitraan multi-pihak. “Bidan harus membangun hubungan profesional yang responsif, humanis, dan berbasis empati. Pelatihan berbasis kecerdasan emosional serta simulasi kasus nyata sangat penting,” tegasnya.
Dengan mengangkat tiga isu kesehatan kritis, Unusa menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tak hanya berorientasi akademik, tapi juga menyentuh langsung kebutuhan kesehatan masyarakat.(tok)





