Rombongan FTMM Unair bersama mahasiswa dan staf dosen asing 8 lintas negara berkegiatan bersama di Desa Kalianget Barat, Sumenep, Minggu (10/8/2025). (Kilasjatim.com/ist)
KILASJATIM.COM, Sumenep – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Unair terjun lamgsung membantu pengembangan budidaya melon terintegrasi dengan teknologi surya beserta pemasarannya yang dirintis Bumdes Setia Makmur di Desa Kalianget Barat, Sumenep.
Mahasiswa ini melakukan pendampingan teknis dan transfer teknologi ramah lingkungan hingga pendirian panel surya di lokasi green house Bumdes Setia Makmur. yang menjadi salah satu sasaran kegiatan pengmas internasional FTMM dengan judul Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) Unair.
Kegiatan PPDB ini merupakan kolaborasi antara Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kegiatan SEGTA 2025 juga terintegrasi dengan kegiatan Airlangga Community Development Hub (ACDH) Unair 2025.
Rombongan FTMM Unair dipimpin Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama Prof Dr Ir Retna Apsari MSi mengajak kerjasama dengan BumDes untuk bersama mewujudkan kemandirian ketahanan pangan melalui produk lokal melon. Unair dengan produk-produk yang dimiliki siap untuk dihilirisasi di Desa Kalianget Barat dan siap untuk mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo.
“Tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan produk lain dan mengangkat potensi lokal lain seperti lele, aneka keripik singkong dan amplang,” kata Prof Retna dalam sambutannya.
Sebagai tahap pertama kerjasama ini, FTMM Unair bersama sejumlah dosen, mahasiswa dan tenaga pendidik Unair beserta mahasiswa dan staf dosen asing 8 lintas negara berkegiatan bersama di Desa Kalianget Barat, Minggu (10/8/2025).
Mahasiswa dan dosen asing yang turun langsung itu dari negara Malaysia, Thailand, Filipina, Palestina, Tiongkok, Bangladesh, Sudan, dan Gambia. Kedatangan mereka untuk memetakan potensi unggulan Desa Kalianget Barat, sekaligus sosialisasi pentingnya penggunaan energi terbarukan, pemanfaatan teknologi surya dan IoT untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian beserta pemasaran digitalnya.
Rombongan FTMM Unair dipimpin Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama Prof Dr Ir Retna Apsari MSi. Sedangkan pemateri dalam sosialisasi adalah Drs Sayuti Jalaluddin MSi dari Bumdes Setia Makmur, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumenep Anwar Syahroni Yusuf AP, MSi dan Rizky Putra Prastio, SSi, MT , MSi dari FTMM Unair dan Dr Tri Siwi Agustina SE, MSi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair. Bertindak sebagai moderator Wadek II FTMM Unair Prof Dr Imron Mawardi MSi.
Sementara Anwar Syahroni menjelaskan sejalan dengan kebijakan pusat, di Kabupaten Sumenep semua anggaran yang diterima desa, sebanyak 20% nya dialokasikan untuk ketahanan pangan sesuai dengan potensi masing-masing desa. Di Desa Kalianget Barat, saat ini fokus yang dikembangkan adalah budidaya buah melon dan ikan lele.
“Kami berterima kasih kalau kalangan akademisi ikut membantu kami dalam mewujudkan ketahanan pangan sesuai kebijakan pemerintah. Kami berharap, budidaya yang saat ini dikembangkan secara tradisional bisa dikembangkan dengan sentuhan teknologi modern misalnya penggunaan energi surya yang mampu meningkatkan produktivitas panen dan efisiensi dalam operasional,” katanya.
Kunjungan ke green house Bumdes Setia Makmur di Desa Kalianget Barat, Sumenep, Minggu (10/8/2025). (ist/dok)
Dijelaskannya di Sumenep ada 330 desa yang tersebar di 4 kelurahan dan 27 kecamatan. Potensi utama adalah sektor pertanian khususnya padi dan jagung, peternakan (sapi, ayam petelur), perikanan hingga hortikultura yang saat ini lagi dikembangkan banyak warga desa, yakni melon.
“Harapan kami apa yang dilakukan Unair di Bumdes Setia Makmur nantinya bisa direplikasi di Bumdes-Bumdes yang lain,”katanya.
Drs Sayuti Jalaluddin MSi dari Bumdes Setia Makmur menceritakan awal mula merintis budidaya melon dan lele di desanya setahun terakhir. Setelah melakukan serangkaian observasi bersama kelompok tani, tanah di Desa Kalianget Barat cocok untuk pengembangan melon. Potensi pembeli cukup besar karena semua lapisan usia suka melon.
“Disini kami coba menanam melon di green house, yang jadi primadona melon Inthanon. Dan hasil uji coba cukup menjanjikan. Dalam 70 hari, kami bisa panen dengan rata-rata berat buah melon di kisaran 1,8 kg hingga 2,4 kg. Rasanya manis. Banyak pembeli, terjauh dari Semarang. Melon premium kami jual dengan harga Rp 25-30 ribu per kg,” kata pensiunan guru SMK 1 Sumenep ini.
Saat ini Bumdes menyiapkan sejumlah green house lagi untuk mengembangkan melon. Di setiap green house juga dilengkapi budidaya lele.
“ Ke depan kami akan mengembangkan cabai, dan aneka sayuran,” paparnya.
Sementara Dr Tri Siwi Agustina SE, MSi menekankan para pelaku usaha untuk belajar strategi pemasaran online. Dia mewanti-wanti agar pengusaha menjaga etika dalam berjualan.
“Jangan menjawab WA pembeli dengan males-malesan, atau melontarkan banyak jawaban tidak tahu. Kondisi ini membuat pembeli malas berhubungan lagi. Yakinlah kalau mereka puas dengan produk dan pelayanan Anda, mereka akan bilang ke orang lain,” jelasnya.
Pengusaha juga diingatkan untuk bangun citra merek dengan bahasa sederhana dan mudah diingat. Juga harus memahami produk dengan benar, termasuk siapa target pasarnya.
Sementara Rizki Putra Prastio SSi, MT memaparkan FTMM Unair memiliki pengalaman membangun panel surya untuk komunitas petani hidroponik di Pasuruan. Produk FTMM dan FST siap mendukung ketahanan pangan di Desa Kalianget Barat.
“Kami membangun panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik para petani hidroponik. Kami juga membantu teknologi agar petani bisa memantau green housenya dari mana saja. Pendampingan yang kami berikan berbuah manis. Produktivitas hidroponik mereka berkembang pesat. Hal yang sama juga bisa diterapkan untuk budidaya melon dan lele di Desa Kalianget Barat. Tentunya kami akan survei mencari lokasi yang tepat untuk pemasangan panel surya,” tegas Rizki Putra.
Selanjutnya, usai sosialisasi rombongan mengunjungi green house Bumdes Setia Makmur. Mereka ikut memetik buah melon yang masak sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Surabaya. (nov)









