FESyar 2021 : BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Keuangan Berbasis Syariah di Jatim Alami Kenaikan

oleh

Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Jatim, Budi Hanoto dalam keterangan pers di acara pembukaan Festival Ekonomi Syariah 2021 di Surabaya Senin (27/09/2021)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Jatim, Budi Hanoto secara tegas mengatakan, bahwa peluang pengembangan ekonomi keuangan berbasis Syariah di wilayah Jatim prospeknya cukup baik dan perlu ditingkatkan kembali

Hal ini didukung dengan banyaknyan jumlah pesantren dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sudah memiliki nuansa islami di Jatim.

“Pertumbuhan pesantren di Jatim saat ini cukup banyak hingga saat in, ada pasantren yang ada wilayah Jatim ada sekitar 6000 pasantren. Dengan jumlah ini, ekonomi keuangan syariah cukup besar dan patut dikembangkan terus. Sehingga nantinya, wilayah Jatim menjadi central daerah ekonomi syariah di Indonesia,” tegas Budi usai pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa Menuju ISEF 2021 di Surabaya, Senin (17/9/2021)

Untuk meningkatkan pengembangan ekonomi keuangan Syariah ini, Bank Indonesia terus melakukan pendekatan dengan memberi program keuangan berbasis syariah pada setiap pondok pesantren maupun pada pelaku UMKM di Jatim.

“Kami terus melakukan hal itu (program ) pada meraka dengan
mendorong penguatan potensi ekspor halal dalam mendukung perkembangan ekonomi keuangan syariah di Jatim nantinya,” urainya.

Dalam acara FESyar 2021, Bank Indonesia terus berupaya melakukan upaya-upaya yang baik untuk peningkatan program ekonomi keuangan syariah secara luas sebagaii
target pengembangan ekonomi keuangan syariah di Jatim

“Kami menargetkan pertumbuhannnya bisa besar dalam pengembangan ini. Dan kami optimis, pertumbuhannya bisa mencapai target tersebut mengingat wilayah Jatim jumlah pondok pesantren cukup banyak,” ungkap Budi.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebut potensi pengembangan ekonomi syariah di Jatim sangat besar. Pengembangan ekonomi syariah juga bisa dilakukan pada disektor pariwisata yang halal.

“Kita perlu memiliki visi menjadikan destinasi wisata halal karena kita punya pantai, gunung maupun situs budaya,” kata Khofifah dalam sambutannya.

Data Global Islamic Economy mencatat, Indonesia kini sudah masuk urutan ke-4 dari Top 10 pada industri halal food, dan urutan ke-5 untuk media halal, urutan ke-3 untuk sektor mode dan fesyen halal, dan urutan ke-6 untuk friendly travel halal, serta urutan ke-7 untuk islamic financial, serta urutan ke-6 untuk farmasi dan kosmetik halal.

Sementara populasi umat Islam di dunia pada 2023 diperkirakan mencapai 2,15 miliar jiwa atau setara 26 persen dari populasi dunia. Sedangkan pasar produk halal di Asia-Pasifik ada sekitar 62 persen, di Afrika ada 15 persen, Timur Tengah 20 persen, Eropa dan Amerika Serikat 3 persen.

Khofifah selanjutnya mengungkapkan, berbagai pandangan dunia terhadap produk halal juga beragam, seperti Arab Saudi ingin menjadi pusat Islam dunia, China pada ekspor baju muslim tertinggi ke Timur Tengan sebesar US$28 miliar, Malaysia ingin menjadi pusat industri halal dan keuangan syariah global, Brazil ingin jadi pemasok daging unggas halal terbesar ke Timur Tengah, dan Australia juga ingin jadi pemasok daging sapi halal terbesar, Thailand punya visi menjadi dapur halal dunia dan London ingin sebagai pusat keuangan syariah di barat.

“Kemudian Jepang tahun lalu berharap bisa jadi industri halal sebagai kontributor kunci perekonomian, begitu juga dengan Korea Selatan yang visinya jadi destinasi wisata halal,” pungkas Khofifah. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *