Ekowisata Kampung Blekok Jadi Motor Penggerak Perekonomian Warga Situbondo

oleh
Kerang Simping bisa menghasilkan gantungan, korden, mainan, dan kap lampu.

KILASJATIM.COM, Situbondo – Sejak ditetapkan sebagai kawasan ekowisata pada 2017 lalu, Kampung Blekok yang terletak di Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Situbondo terus menjadi ikon baru bumi Sholawat Nariyah. Bahkan, Kampung Blekok tak hanya jadi arena konservasi burung-burung blekok tapi juga motor untuk memutar roda perekonomian warganya.

“Sebelum ditetapkan sebagai kawasan ekowisata Kampung Blekok oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo, pendapatan bulanan warga berada pada kisaran Rp 750.000 hingga Rp 900.000,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kholil, Jumat (20/9).

Namun, kata Kholil, pada 2019 pihaknya mensurvei pendapatan kampung setelah adanya Kampung Blekok. Ternyata, terjadi pertumbuhan yang signifikan. Warga mengalami akselerasi dalam pertumbuhan ekonomi.

“Sebelum adanya ekowisata, hanya ada tiga warung. Kini jumlahnya mencapai 10 kali lipat, yakni 30 warung. Barang dagangannya pun beraneka ragam, mulai makanan, minuman, hingga makanan ringan. Hasilnya, didapatkan data bahwa rata-rata pendapatan warga mencapai Rp 1.250.000 hingga Rp 1.500.000. Artinya, terjadi peningkatan pendapatan hingga dua kali lipat,” katanya.

BACA JUGA: Dishub Jatim Siap Fungsikan Pelabuhan Jangkar Situbondo

Pendapatan warga memang belum mencapai UMR Situbondo, yakni Rp 1.600.000. Namun, dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas masyarakat dan tanggung jawab terhadap alam, nilai peluang kerja di daerah pinggiran—sebagaimana umumnya lokasi ekowisata—jauh lebih berharga daripada pekerjaan dengan gaji yang sama di perkotaan. Apalagi untuk bekerja mereka tak perlu meninggalkan desanya.

Pengembangan ekonomi kawasan ekowisata Kampung Blekok memang difokuskan pada pemberdayaan warga setempat. Ada aturan tidak tertulis bahwa para penjual haruslah warga lokal. Jika kuota warga lokal terpenuhi, atau tidak ada warga yang menyambar peluang itu, baru ditawarkan kepada warga luar desa.

Hasil penelitian DLH menyebutkan bahwa pasca ekowisata Kampung Blekok ditetapkan, belum ada peralihan profesi. Tapi, bukan berarti tidak ada proses mobilitas ekonomi di dalamnya. Warga yang dulu cuma jadi nelayan kini punya tambahan penghasilan untuk menyewakan perahu bagi wisatawan.

Tri Ningsih mengolah kerang simping.

“Para peternak mendapat tambahan pendapatan dari berjualan makanan atau handycraft. Dan bagi pengrajin yang dulunya menjual barang mentahan ke kota lain, kini langsung bisa transaksi dengan end user. Memangkas segala rantai distribusi yang membuat nilai barang jualannya jauh lebih baik,” kata Kholil.

Salah satunya adalah Tri Ningsih. Sebelum adanya Kampung Blekok, nenek 63 tahun itu bekerja sebagai buruh kerang simping. Dia biasanya memproses berkarung-karung kerang dari tengkulak untuk jadi barang siap olah. Yakni kerang bulat yang nantinya dirakit menjadi gantungan kunci atau korden. Setiap bulan dia hanya dibayar Rp 1 juta, bergantung beban kerja.

Prosesnya dimulai dengan memisahkan daging kerang dari cangkangnya. Cangkang kerang lantas dicuci kemudian diberi air keras untuk dijemur selama beberapa hari bergantung cuaca. Kerang yang sudah kering itu lantas diolah agar bentuknya membulat. Setelah dikeringkan lagi, cangkang kerang kemudian divernis. Barang setengah jadi itulah yang lantas dikirim ke Pasir Putih, Yogyakarta, Bali, dan Cilacap untuk diproses kembali.

Kini setelah Kampung Blekok berdiri, Tri memberanikan diri untuk memprosesnya sebagai barang jadi. Prosesnya sebenarnya tidak sulit baginya. Apalagi dia sudah mengenal betul kerajinan kerang simping sejak puluhan tahun lalu. “Kini, dari cangkang-cangkang kerang itu, Tri bisa menghasilkan gantungan, korden, mainan, dan kap lampu. Harga jualnya di kisaran Rp 15.000 untuk gantungan kunci sampai yang paling mahal Rp 50.000 untuk gorden,” kata Kholil. (kj1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *