Dokter Sukma: Pemimpin Harus Teladani Sifat Humanis Gus Dur

oleh
Sukma Sahadewa, salah satu pengagum Gus Dur.

KILASJATIM.COM, Surabaya – Bulan Desember dikenal sebagai bulan Gus Dur, karena pada bulan ini tepatnya tanggal 30 Desember 2009 Presiden RI ke-4 tersebut wafat. Seperti pada tahun sebelumnya, sejumlah pengikut dan pengagum Gus Dur tahun ini memgenang sosok cucu KH. Hasyim Asy’ari itu dalam peringatan haul Gus Dur ke-10.

Sukma Sahadewa, salah satu pengagum Gus Dur mengungkapkan, dirinya mengagumi sosok Gus Dur sebagai tokoh pluralisme. Lebih dari itu, Gus Dur adalah sosok humanis yang menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Karena itu, ia berharap para pemimpin bangsa ini, baik kepala daerah maupun pemimpin nasionalis harus meneladani sifat humanis Gus Dur.

“Kalau pemimpin memiliki sifat humanis, Insya Allah ia akan menjadi pemimpin yang baik. Karena ia menempatkan kemanusiaan di atas segalanya,” tutur pria yang akrab disapa Dokter Sukma itu, Selasa (31/12).

Sukma yang saat ini sedang running dalam pilkada Kabupaten Kediri 2020 ini menilai, pembangunan itu tak bisa hanya dilakukan secara fisik dalam bentuk infrastruktur. Pembangunan karakter juga tak kalah penting. Sebab, membangun secara fisik dengan mengabaikan karakter akan menjadikan masyarakat menjadi individual dan apatis.

BACA JUGA: Keluarga Gus Dur Dukung Jokowi, Machfud: Insya Allah Bawa Berkah untuk Indonesia

Bakal calon Bupati Kediri ini menyebut kearifan lokal atau local wisdom, seperti gotong-royong dan tepo seliro harus dipertahankan seiring dengan pembangunan fisik yang terus bergulir.

“Tata kelola tertinggi yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah tata kelola kemanusiaan. Memberantas kebodohan, kemiskinan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat adalah aplikasi dari tata kelola kemanusiaan,” urai pria asli Kediri ini.

Kader muda NU yang menggagas Gerakan Bakti Subuh ini menambahkan, Gus Dur bukan hanya pemimpin yang humanis. Tetapi beliau juga adalah pemimpin yang berani. Terbukti Hanya Gus Dur dan Soekarno yang berani datang ke Kediri. Padahal ada mitos kuat siapapun Presiden yang datang ke Kediri akan jatuh atau lengser.

“Saya kira pemimpin ideal itu ada di sosok Soekarno dan Gus Dur. Karena itu, saya akan mengambil pelajaran baik dari kedua tokoh itu bila dipercaya memimpin Kabupaten Kediri,” pungkasnya. (*/kj1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *