Diduga Langgar Kode Etik, Penggiat Antikorupsi Adukan Penyidik Polres Lamongan ke Propam Polda Jatim

oleh

 

Foto – Penggiat antikorupsi asal Lamongan Baihaki Akbar bersama Kuasa hukumnya Moh Taufik melaporkan penyidik unit 1 Reskrim Polres Lamongan ke Propam dan Irwasda Polda Jawa Timur.

 

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Penggiat antikorupsi asal Lamongan bernama Baihaki Akbar bersama Kuasa hukumnya Moh Taufik resmi mengadukan seluruh penyidik Unit 1 Reskrim Polres Lamongan ke Propam dan Irwasda Polda Jawa Timur (Jatim).

Baihaki mengaku pelaporan ini terkait pelanggaran kode etik dan pelanggaran kinerja penyidikan. “Menurut kami apa yang di lakukan oleh Penyidik Unit 1 Reskrim Polres Lamongan tidak sesuai dengan prosedur, di antaranya datang menjemput client kami dengan tidak menunjukkan surat perintah tugas, surat perintah penangkapan dan client kami di mintai keterangan sebelum ada hasil visum dan sebelum ada LP,” kata Moh Taufik di Surabaya, Selasa (10/8).

Dari pelanggaran tersebut pihaknya juga akan mengirim surat ke Presiden Republik Indonesia, DPR RI Komisi III, Kadiv Propam Mabes Polri dan Irwasum Mabes Polri. Selain itu, pihaknya juga akan mengirim surat ke Ombudsman RI dan Komnasham RI, terkait permasalahan pelanggaran yang dilakukan oleh penyidik Unit 1 Reskrim Polres Lamongan. “Karena menurut kami permasalahan tersebut tidak boleh dibiarkan,” imbuh Taufik.

Sebelumnya Sekjen LARM-GAK Baihaki Akbar mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Polda Jawa Timur, Senin (9/8/2021) untuk mengadukan ancaman yang dia terima saat mengungkap dugaan adanya kasus korupsi di Kabupaten Lamongan.

Baihaki Akbar mengatakan kasus ini bermula saat ia melaporkan sejumlah dugaan tindak pidana korupsi salah satunya pembangunan gedung Pemkab Lamongan. “Di sana telah dilakukan pemeriksaan oleh KPK, indikasi kerugian negara Rp1,51 miliar. Saya juga mengawal kasus bibit sapi di kelompok ternak kelompok ternak, di situ ada kurang lebih 16 DRPD Lamongan yang terlibat,” katanya.

“Ketika saya investigasi, bibit sapi dan fisik bangunan tak pernah ada. Sejak saat itu saya sering didatangi dan diteror,” ujarnya, menambahkan.

Puncaknya saat malam minggu, Baihaki yang baru pulang dari Madura didatangi sekelompok orang dari LSM Jerat dan Ketua Umumnya bernama Miftah Zaini. “Beliau saya sambut dan suruh datang. Diskusi panjang lebar, ada mobil kedua yang parkir. Selanjutnya ada seorang bernama Feri sedang mabuk menyampaikan jangan macam-macam, tidak peduli bahwa saya orang Madura akan dihantam dan dihajar,” ujarnya.

Dia berharap aparat untuk bertindak memproses sejumlah orang yang melakukan ancaman terhadap dirinya. kj3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *