Foto Istimewa
KILASJATIM.COM, Surabaya – Derap langkah pengunjung di Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya, Rabu (10/12/2025) pagi terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan yang terhubung langsung dengan Pakuwon Mall itu, aroma manis buah dan vanilla menyambut setiap orang yang melintas. Dari situlah Dicium Parfum, brand parfum lokal yang tengah naik daun, resmi membuka gerai offline pertamanya.
Pemilik Dicium Parfum, Enrico Hartanto, berdiri di balik etalase kaca yang memajang delapan varian parfum andalannya. Raut wajahnya menunjukkan kebanggaan.
“PTC adalah pilihan paling tepat. Mall terbesar di Indonesia ini selalu ramai, dan pas dengan segmen kami,” ujarnya saat meresmikan toko pertama Dicium Parfum di PTC lantai G.
Langkah pembukaan toko ini bukan keputusan tiba-tiba. Dicium Parfum telah menghabiskan dua tahun membangun basis penggemar melalui marketplace dan berbagai pameran di Jakarta, Surabaya, hingga Malang. Dari pengalamannya berkeliling pameran, Enrico menyimpulkan bahwa kehadiran fisik sangat penting untuk memperbesar brand.
Tagline “Dicium Everywhere” kini semakin relevan. Menurut Enrico, toko offline bukan hanya tempat bertransaksi, melainkan ruang bagi pelanggan untuk mencium parfum secara langsung, mencoba teksturnya di kulit, sekaligus mendapatkan edukasi aroma dari tim ahli.
Penjualan Menanjak, Surabaya Mulai Bergairah
Dalam dua tahun terakhir, Dicium mencatat pertumbuhan penjualan yang terus meningkat, sejalan dengan naiknya minat masyarakat terhadap parfum.
“Sekarang orang makin sadar pentingnya wangi untuk kepercayaan diri,” kata Enrico.
Menurutnya, pasar Surabaya mulai menunjukkan grafik kenaikan yang cukup tajam, meskipun Jakarta lebih dulu bergerak. PTC pun dipilih sebagai titik awal ekspansi karena dinilai paling strategis.
Aroma Unik, Tahan Lama, Jadi Daya Tarik Utama
Pengunjung booth Dicium didominasi kelompok muda hingga dewasa yang menyukai aroma tahan lama—minimal 10 jam—dengan karakter wangi yang berbeda dari brand lain. “Kami ingin memberikan aroma yang punya identitas,” jelas Enrico.
Dicium juga aktif mengedukasi pelanggan soal penggunaan parfum yang tepat. “Berangkat kerja itu cukup 2–3 semprotan untuk seharian,” ujarnya sambil tersenyum, menegaskan bahwa efektivitas lebih penting daripada jumlah.
Pada etalase toko, delapan varian Dicium tersusun rapi: Maverick, Fume, Enigma, Love, Auralis, Pure, Brew, dan Thea. Empat di antaranya tersedia dalam ukuran kecil 30 ml yang praktis dibawa bepergian. Harga seluruh varian berada pada kisaran Rp150 ribu–Rp250 ribu.
Dari seluruh pilihan, Enigma menjadi favorit konsumen perempuan. Sementara Auralis dikenal dengan aroma manis elegan yang cocok dipakai harian. Keduanya kerap menjadi varian yang paling cepat terjual.
Promo Pembukaan dan Kualitas Terjamin
Pembukaan toko pertama ini juga menghadirkan promo spesial: pembelian dua ukuran besar akan mendapatkan satu ukuran kecil gratis, sedangkan pembelian dua ukuran kecil berhadiah Discovery Set. Promo ini langsung menarik perhatian pengunjung mall.
Meski menggunakan bahan impor dari Swiss, Dicium tetap diproduksi melalui maklon lokal dan telah mengantongi sertifikasi BPOM. Enrico mengungkapkan bahwa brand-nya diposisikan sebagai Extrait de Parfum, dengan ciri aroma manis—buah dan vanilla—serta mulai bereksperimen dengan aroma teh dan kopi.
Keberanian menciptakan aroma khas membuat Dicium memiliki tempat spesial di hati konsumen. Setiap botol menyimpan perpaduan kreativitas dan riset bertahun-tahun, menghadirkan wangi yang bukan hanya harum, tetapi juga bercerita.
Ketika ditanya soal rencana ke depan, Enrico dengan mantap menargetkan pembukaan hingga enam gerai offline di Surabaya dan Jakarta.
Bagi Enrico, perjalanan Dicium baru dimulai — dan PTC menjadi pintu pertama menuju mimpi yang lebih besar.(ara)





