Dampak Covid -19 Berpengaruh Besar Terhadap Aktifitas Ekspor Impor di Jatim

oleh -1.182 views

KILASJATIM.COM, Surabaya – Dampak wabah Covid-19 turut memberi pengaruh nyata pada aktivitas ekspor impor di Jawa Timur selama beberapa bulan ini.

Disampaikan sepanjang Maret 2020 dan makin mewabahnya Pandemi Covid -19 menjadikan nilai ekspor Jawa Timur mengalami penurunan 0,24 persen atau senilai USD 1,99 miliar jika dibandingkan pencapaian Februari lalu. Jika dilihat YoY pada periode yang sama Maret 2019 justru menunjukkan kenaikam cukup tinggi yakni sebesar 9,90 persen.

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan menyampaikan dalam rilisnya, secara kumulatif, selama Januari–Maret 2020, ekspor yang keluar Jawa Timur sebesar USD 5,77 miliar atau naik 15,02 persen dibandingkan Januari-Maret 2019, sebesar USD 5,02 miliar.

‘Disisi lain, Ekspor nonmigas Maret 2020,emgalami kenaikan 1,90 persen atau mencapai USD 1,94 miliar dibandingkan Februari. Dan bila dibandingkan dengan Maret 2019 mengalami kenaikan sebesar 12,21 persen,” ujar Kepala Bidang Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Satriyo Wibowo melalui teleconference di Surabaya, Rabu (15/04)

Sementara itu Ekspor migas Maretx 2020 mencapai USD 42,55 juta atau turun sebesar 49,12 persen dibandingkan Februari. Nilai tersebut juga turun sebesar 43,32 persen jika dibandingkan Maret 2019.

Sedang golongan barang utama ekspor nonmigas Maret 2020 tercatat sebesar USD 586,84 juta untuk Perhiasan/Permata, disusul oleh Kayu dan Barang dari Kayu sebesar USD 125,44 juta, serta Lemak dan Minyak Hewan/Nabati sebesar USD 114,63 juta.

Untuk negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Januari-Maret 2020 adalah Jepang (USD 780,65 juta) dengan peranan 13,92 persen, disusul Singapura sebesar USD 757,33 juta atau dengan peranan 13,50 persen, dan Amerika Serikat (USD 683,21 juta) dengan peranan 12,18 persen.

“Ekspor nonmigas ke kawasan ASEAN mencapai USD 1.387,13 juta atau dengan kontribusi sebesar 24,73 persen, Sementara ekspor nonmigas ke Uni Eropa USD 385,97 juta (6,88 persen),” urainya.

Disisi lain, nilai Impor Jawa Timur pada bulan Maret 2020 tercatat mencapai USD 1,79 miliar atau naik sebesar 11,27 persen dibandingkan Februari 2020. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 1,02 persen dibandingkan Maret 2019.

Dari impor nonmigas Maret 2020 tercatat mencapai USD 1,49 miliar atau naik 22,95 persen dibandingkan Februari. Namun demikian, nilai impor nonmigas tersebut turun sebesar 0,79 persen bila dibanding Maret 2019.

Sedang impor migas Maret 2020 tercatat sebesar USD 296,62 juta atau turun sebesar 24,74 persen dibanding Februari. Namun bila dibandingkan Maret 2019, nilai tersebut naik sebesar 11,24 persen.

“Jadi secara kumulatif, selama Januari-Maret 2020, impor yang masuk ke Jawa Timur sebesar USD 5,42 miliar atau turun sebesar 2,68 persen dibandingkan Januari-Maret 2019, yakni sebesar USD 5,57 miliar,” lanjut Dadang.

Negara asal barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Maret 2020 dari Tiongkok USD 1,04 miliar (24,57 persen), disusul dari Amerika Serikat sebesar USD 308,10 juta (7,25 persen) dan impor dari Thailand sebesar USD 233,11 juta (5,48 persen). Impor nonmigas dari kelompok negara ASEAN sebesar USD 728,99 juta (17,15 persen), sementara impor nonmigas dari Uni Eropa mencapai USD 387,92 juta (9,13 persen).

Dijelaskan Satriyo,

Komoditas peralatan kesehatan terutama masker dan hand sanitizer atau antiseptik pada periode Februari dan Maret tercatat mengalami fluktuasi yang signifikan dari sisi nilai dan pertumbuhan untuk ekspor dan impor.

Satriyo mengatakan bahwa untuk komoditas masker bedah misalnya, selama periode Maret sudah menujukkan tren penurunan ekspor hingga 70,94 persen. Sementara dari sisi impor terjadi kenaikan yang signifikan hingga mencapai 634,50 persen.

“Untuk masker bedah total impornya pada Maret senilai USD 47.801. Sementara total impor saat Februari bernilai USD 6.508. Jadi naiknya cukup tinggi, tetapi nilainya baru USD 47.000,” kata Satriyo.

Kenaikan impor masker selama Maret, selain akibat kelangkaan masker bedah di Jawa Timur, juga terjadi kelangkaan untuk produk yang sama di pasaran dunia, karena semua negara juga membutuhkan.

Menurutnya, kenaikan impor ini juga berkaitan dengan adanya larangan ekspor masker dan antiseptik mulai 18 Maret hingga 30 Juni 2020 dari pemerintah yang ditegaskan melalui penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker karena kebutuhan dalam negeri yang masih sangat tinggi.

“Dibanding ekspor masker di bulan Februari sangat jauh, USD 2.582.223. Maret USD 750.470. Jadi ekspor di Februari sangat tinggi karena memang permintaan dari luar tinggi. Terutama di ekspor ke Hongkong dan Singapura. Di Februari ke Hongkong itu USD 1.231.731. Yang kedua ke Singapura USD 957.940. Nah di bulan Maret ini sudah turun,” ungkap Satriyo. (kj2)

No More Posts Available.

No more pages to load.