Cerita Anak-Anak Mifta

oleh

Malang, kilasjatim.com: Suara tangis bersautan bocah balita terdengar sampai lantai bawah. Menjelang ashar, bertelanjang baju baris, berjajar menunggu giliran mandi sendiri atau dimandikan.

Diaz, melepas kaos, celana dan pampesnya tanpa bantuan. Dipaha kirinya bekas luka bakar menyisakan warna putih lebar.

“Itu bekas pukulan sotil panas. Mungkin saking panasnya sampai celananya robek dan kulitnya terkelupas,” kata Nur Miftahul Jannah, pengelolah Yayadan KNDJH (Kisah Nyata Dan Jeritan Hati) yang bermarkas di Jl. MuhatoV, RT 03/RW 10 Malang.

Mifta, begitu biasa disapa mengisahkan, bocah asal Pontianak ini belum genap setahun tinggal di rumahnya. Setelah ibunya di penjara tahun lalu, ayahnya dan orang yayasan perlindungan anak menitipkan padanya.

“Anak ini datang dengan trauma berat. Luka fisik disekujur tubuhnya belum sembuh. Jahitan dikepala belum dilepas, saya tidak tega,” ceritanya.

Mifta adalah mantan TKW Hongkong yang membiayai panti asuhan untuk anak-anak yang tidak diinginkan para orang tua. Umumnya anak-anak ini berasal dari TKW korban perosaan majikan, hubungan diluar nikah, dan ditinggal di tempat tidak layak hingga korban kekerasan orang tua.

Panti asuhan ini, berdiri sejak September 2013 awalnya hanya rumah biasa. Saat pulang dari Hongkong ia dititipi seorang anak yang ibunya meninggal. Selang bebetapa bulan seorang perempuan yang tidak dikenal memberinya anak, begitu seterusnya hingga enam anak. Tabungan menipis, tanpa pekerjaan. Saat itulah Syaiful Bahri tetangganya mengajak menikah.

“Belum menikah sudah punya anak banyak, alhamdulillah suami saya pengertian,” ceritanya.

Hingga kini selain dikaruniani dua anak kandung, anak asuhnya semakin bertambah. Sebagian besar masih balita, umumnya bayi dan baru merangkak.

Sesuai asalnya umumnya anak yang tidak diinginkan datang dengan masalah seperti sakit atau masalah pikis. Seperti Azril yang baru berusia satu tahun, matanya tak bisa melihat. Kebutaan ini akibat jamu atau ramuan mengugurkan kandungan. Begitu pula dengan Azka, yang belajar jalan, pertama datang beratnya 1,4 kg. Dalam balutan selendang Mifta membawanya ke rumah sakit, bayi sebesar botol kecap itu sudah membiru, dadanya penyok ke dalam akibat paru-parunya tidak mengembang sempurna.

“Saya tidak berpikir biaya, bagaimana caranya anak ini selamat. Harapan hidupnya tipis. Tapi ia tetap manusia, saya harus menolong,” ceritanya.

Dan masih banyak lagi kisah bocah-bocah yang dibuang keluarganya. Meski ia mengaku sering kali terkendala biaya pengobatan, sebab anak-anak ini tidak mungkin di ikutkan BPJS atau jaminan kesehatan lain, karena mereka tidak memiliki identitas kelahiran.

Di rumahnya bukan hanya anak-anak yang ditampung, juga manula yang tidak punya keluarga turut tinggal bersamanya.

“Bagaimana lagi, kita ini tidak bisa menolak. Kalau saya tidak menolong rasanya ada yang nganjal. Dari pada dibunuh, seperti berita di tivi, ngeri kan. Soal rezeki Alloh sudah atur. Saya mbatin apa yang harus dipakai memberi saku anak-anak. Tiba-tiba ada orang datang memberi bantuan,” kisahnya.

Sebab itu, setiap ada yang memberikan bayi ia tetap menerima dengan suka hati. Tanpa imbalan, semua karena rasa kemanusiaan. Hingga kini ada 30 anak usia sekolah yang ditampungnya, serta lima manula yang ditinggal keluarganya. Kj5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *