Bantu Penderita Obesitas Hidup Lebih Sehat

oleh

 

 

dr Grace Judio-Kahl Founder  Klinik lighthouse, Istri Wagub Jatim Arumi Bachsin dan Head of Marketing  Klinik Lighthouse  dr. Esty Meirizka buka gerai ke-10 di Surabaya. (Nova/*)

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Surabaya menempati posisi ke tiga dalam jumlah penderita obesitas , hal ini yang mendasari Klinik lighthouse hadir membantu masyarakaf Surabaya untuk hidup Iebih sehat dan terbebas dari obesitas dengan memberikan program weight confrol berupa pendampingan.

Grace Judio-Kahl Founder Klinik lighthouse mengatakan perbedaan dengan klinik sejenis yang banyak buka di kota besar yakni pada pola yang dilakukan. Klinik Lighthouse sistimnya komphrehensif, tidak hanya  menurunkan berat badan tubuh secara instan melainkan ada prosesnya.

“Kita gabungkan pola makan, pola pikir, terapi, hingga obat. Programnya diberikan ke setiap pasien seteloh disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien masing-masing melalui rekomendasi medis dari dokter, sehingga lebih mudah unfuk diikuti. Seluruh program dan produk yang kami miliki juga telah diuji keamanan dan efektifitasnya sebelum diluncurkan ,” katanya disela pembukaan gerai ke 10- nya Lighthouse di Kota Surabaya Jumat (6/12/2019)

Grand opening Klinik lighthouse di Kota Surabaya dilangsungkan Jumat, 6 Desember 2019 oleh Istri Wagub Arumi Bachsin dengan  tema #SlimBackSurabaya. Tema ini diambil Pasalnya 1 dari 4 penduduk indonesia obesitas dan kebanyakan wanita lebih banyak engalami obesitas. Sementara 9 dari 10 orang yang ikut program diet gagal.

dr. Grace menambahkan kita sudah pengalaman 15 tahun sehingga mengetahui yang dibutuhkan pasien. Ternyata orang merasa kegemukan problem nya di otak, yakni ngemil dan.lapar mata. Dari merubah mindset itulah ditunjang terapi yang disesuaikan dengan masing-masing pasien sesuai kebutuhan, akan pas dan mudah juga diterapkan setelah terapi.

“Kami  terus mencari dan menciptakan terapi yang mudah diterapkan pasien. Di klinik juga ditunjang fasilitas seperti simulasi virtual reality, periksa DNA sapai ada garpu diet. Untuk tes DNA diperlukan untuk menentukan pola yang tepat bagi pasien. Ada pasien yang  tidak tahan lapar, pantang karbo dan sejenisnya,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Surabaya salah satu kota yang terkenal dengan keragaman kullnernya. Sebuf saja rawon, rujak cingur, bebek goreng, pecel  dan masih banyak lainnya. Didukung mudahnya akses wisata kuliner dan minimnya edukasi mengenal pola makan sehat, fanpa sadar bahaya obesitos mengintai masyarakat Surabaya.

Berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan dan BPS, Jawa Timur merupakan provinsi dengan tingkaf obesitas tertinggi ke-tiga sefelah DKI Jakarta  57 persen  dan DI Aceh 56,4 persen dengan persentase 52,9 persen.

Menuruf hasil riset Klinik lighthouse, ada beberapa hal yang memicu obesitas masyarakat Surabaya, diantaranya minimnya kesadaran atas pola makan dan hidup sehaf, besarnya kalori dan porsi pada makanan. Diperparah kemudahan mendapapatkan makanan. Di sisi Iain, jarangnya akfififas fisik yang sederhana pun menjadi pemicu obesitas.

Komitmen Klinik lighthouse  memberikan terapi yang aman, tidak menyakitkan karena tidak semuanya menggunakan jarum dan operasi. Tahun 2020 kampanye lighthouse yakni turunkan obesitas di seluruh kota di Indonesia.

Sementara Arumi Bachsin mengaku kaget ternyata obesitas di Jatim menduduki ranking ketiga terbesar. Pola makan yang salah menjadi salah satu pemicu terjadinya obesitas. Dari obesitas bisa berdampak pada kesehatan lainnya.

“Saya senang Klinik Lighthouse   hadir di Surabaya sehingga masyarakat bisa teredukasi dan memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan.  Memiliki berat  badan ideal  keinginan semua orang. Namun, penurunan berat badam tidak mudah.”

Head of Marketing  Klinik Lighthouse  dr. Esty Meirizka menambahkan ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi gagalnya diet. Salah saftnya kurangnya pengetahuan mengenai dief yang fepat. Umumnya, seseorang yang baru saja ingin melokukon diet karena ingin segera mendapatkan tubuh idaman, mencari program sesingkat mungkin hasil maksimal.

“Padahal  memperoleh tubuh sehat dengan tubuh ideal, dibutuhkan proses dan komitmen kuat. Di sisi Iain, diet terlalu ketat atou eksfrim justru bisa menggagalkan program penurunan berat badan. Perilaku dan gaya hidup seseorong ternyata  berpengaruh terhadap proses dan hasil diet  yang dijalankan oleh seseorang,” papar Esti. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *