APTIKNAS : Tehnologi Smart Ritel Bantu Pengusaha Lancarkan Kinerja Bisnis

oleh

Pembicara yang hadir dalam talkshow Taiwan Excellence di Surabaya mulai dari TIK Nasional, Aprindo dan vendor teknologi dari Acer Taiwan memberikan solusi smart ritel di Surabaya, Kamis (26/9/2019)

SURABAYA, kilasjatim.com: –
Ketua Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas) Jawa Timur, Okky Tri Hutomo menyarankan pelaku bisnis di Indonesia agar sedini mungkin menerapkan Smart Ritel untuk memperlancar usahanya.

“Jangan menunggu bisnisnya besar baru menerapkan Smart Ritel, karena ke depannya akan memudahkan dalam memperlancar dan memenej pelanggannya. Kita akan mengetahui pelanggan kita itu dari usia, kegemarannya terhadap produk yang dibeli dan banyak lagi lainnya yang kita ketahui dari smart ritel tersebut,’ kata Okky sesaat setelah menjadi pembicara di acara Taiwan Excellence di Surabaya, Kamis (26/9).

Dikatakan Okky yang mantan jurnis tabloid Komputek,
saat ini Smart ritel mulai banyak diterapkan pelaku bisnis terutama ritel modern. Hanya saja masih terbatas pada bisnis ritel modern seperti Giant, hypermat, Alfamart, Indomart, Lottemart dan lainnya dengan kisaran 20 – 27 persen. Sedangkan di banyak negara konsep ini sudah diterapkan sejak lama.

“Smart ritel ini bisa juga diterapkan mereka yang membuka usaha kuliner. Misal warung nasi pecel, dengan teknologi ini pemilik bisa mengetahui pelanggan dan bisa menghubungi kembali jika ada promo yang dutawarkan,” jelasnya.

Ditambahkan Okky, dijaman yang serba mudah sekarang ini peritel modern tidak boleh mengabaikan kecanggihan teknologi saat ini. Jika ingin bisnisnya eksis memang harus melakukan perubahan.

Konsep Smart Ritel ini akan diketahui salah satunya jumlah pelanggan yang masuk ke toko setiap harinya. Termasuk jenis kelamin, karakter konsumen dan kebiasaannya berbelanja. Sehingga ketika konsumen tersebut masuk ke toko, maka mesin display produk akan langsung produk yang dia butuhkan.

Misalnya jika pelanggan perempuan akan langsung dimunculkan produk perempuan, begitu pun sebaliknya. “Seperti yang dicontohkan pada iklan minuman yang muncul di saat cuaca panas, dengan menggunakan tehnologi tersebut maka begitu cuaca panas maka iklannya muncul dan pembeli langsung tertarik membelinya,” papar Okky.

Tehnologi ini juga bisa sekaligus sebagai ajang promosi kepada pelanggannya yang sudah ada dalam referensi. Pemilik toko akan mengetahui apa yang diinginkan pelanggannya.

Diakui Okky, intrik meningkatkan pemahaman penggunaan tehnologi tersebut perlu terus dilakukan sosialisasi . Aptiknas siap memfasilitasi pihak peritel yang hendak menerapkan konsep itu. Karena Aptiknas sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan teknologi canggih salah satunya dari Taiwan.

“Bagi peritel atau mereka yang membuka bisnis kuliner yang ingin menerapkan konsep tersebut kami siap membantu,” papar Okky.

Disinggung besaran biaya untuk menggunakan tehnologi tersebut, Okky menyarankan agar dimulai dari saat ini dengan memasang mulai dari aplikasi yang diinginkan dan selanjutnya menyesuaikan dengan kebutuhan.

“Jika dilakukan secara langsung memang akan terasa berat pada pengeluaran biayanya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, pengusaha ritel di Indonesia sangat banyak. Konsep smart ritel ini memiliki potensi yang besar dikembangkan di republik ini.

Sampai saat ini ada 527 peritel yang menjadi anggota Aprindo dengan total toko sebanyak 27 ribu.

“Banyak sekali jumlahnya. Dan kami mendukung konsep ini karena untuk mengimbangi kecanggihan teknologi yang sudah ada,” papar Roy.

Dengan konsep ini diharapkan para peritel bisa menaikkan kinerja usahanya. Dengan begitu kontribusi terhadap perekonomian juga bisa bertambah maksimal.

Tahun ini Aprindo menarget omset peritel yang tergabung bisa mencapai Rp255 triliun hingga Rp 260 triliun. Atau naik sembilan hingga 10 persen dari tahun sebelumnya. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *