Hari Batik Nasional, Khofifah Dorong Batik Jatim Berlayar ke Pasar Global

oleh -92 Dilihat
Oleh
Frizal
Reporter
Hari Batik Nasional 2026, Khofifah Dorong Batik Jatim Naik Kelas

KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ingin batik Jawa Timur tak berhenti sebagai pakaian yang dikenakan setiap Hari Batik Nasional. Batik didorong masuk ke ruang yang lebih luas, mulai pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pasar global.

Pesan itu disampaikan Khofifah bertepatan dengan Hari Batik Nasional 2026 yang mengusung tajuk “Batik Berlayar”, Jumat (2/10/2026).

Menurut Khofifah, momentum tersebut harus menjadi pengingat bahwa keberlangsungan batik tak cukup hanya dengan mengenakannya. Ekosistem batik dari perajin hingga pasar juga perlu diperkuat.

“Semangat Batik Berlayar adalah membawa kekayaan budaya kita menjangkau lebih banyak orang. Kita ingin batik Jawa Timur semakin dikenal, dicintai, dan luas pasarnya,” ujar Khofifah.

Puncak peringatan Hari Batik Nasional 2026 dijadwalkan berlangsung di Dermaga Kapal Taman Prestasi Surabaya pada 2 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan batik di ruang publik dengan pendekatan yang lebih kreatif.

Khofifah menilai ruang publik dan pariwisata bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan batik, khususnya kepada generasi muda. Batik tidak hanya dilihat sebagai produk sandang, tetapi juga karya budaya yang memiliki cerita, filosofi, dan proses panjang.

“Ketika batik bertemu dengan seni, kreativitas, dan pariwisata, masyarakat dapat menikmati keindahannya sekaligus mengenal proses pembuatan dan filosofi di baliknya,” katanya.

Jawa Timur memiliki ragam batik yang berkembang di 38 kabupaten/kota. Setiap daerah memiliki motif, warna, dan cerita yang mencerminkan identitas serta kearifan lokal.

Khofifah menyebut kekayaan tersebut sebagai modal budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif.

“Setiap daerah memiliki kekhasan yang patut kita banggakan. Kekayaan motif, warna, dan cerita di balik batik Jawa Timur harus terus kita kenalkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Grand Swiss-Belhotel Darmo Surabaya hadirkan “The Winter Christmas & New Year Eve's", dengan atmosfer musim dingin Alpen Swiss

Menurut dia, pelestarian batik juga harus berdampak langsung kepada perajin. Kebanggaan mengenakan batik perlu diikuti dengan membeli produk lokal, memperluas pasar, meningkatkan kualitas, serta mengembangkan desain tanpa meninggalkan identitas daerah.

“Di balik selembar batik ada keterampilan, ketelatenan, dan penghidupan keluarga,” tutur Khofifah.

Penguatan usaha batik, lanjutnya, juga perlu mengikuti perubahan pasar. Pendampingan bagi pelaku industri dibutuhkan untuk pengembangan desain, peningkatan kualitas dan kemasan, pemanfaatan teknologi digital, branding, hingga pemasaran.

Dengan cara itu, batik khas daerah tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga produk kreatif yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.

Persoalan lain yang disoroti adalah regenerasi pembatik. Khofifah mendorong generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna batik, tetapi ikut terlibat dalam menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut.

Keterlibatan itu bisa dilakukan melalui belajar membatik, mengembangkan desain, mendokumentasikan cerita perajin, hingga mempromosikan batik melalui platform digital.

“Kita ingin anak-anak muda mendapatkan ruang untuk belajar dan berkarya bersama para perajin. Pengetahuan dan keterampilan membatik tidak hanya diwariskan, tetapi juga dikembangkan sesuai zaman,” katanya.

Batik juga didorong menjadi bagian dari wisata edukasi. Sentra batik di berbagai daerah dapat dikembangkan sebagai destinasi bagi wisatawan untuk melihat proses produksi, mengenal motif khas daerah, hingga mencoba langsung membuat batik.

Model tersebut dinilai bisa menggabungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi lokal.

“Ketika orang datang ke sentra batik, melihat prosesnya, belajar membatik, dan kemudian membeli produknya, maka yang tumbuh bukan hanya apresiasi terhadap budaya, tetapi juga ekonomi masyarakat,” ujar Khofifah.

Hari Batik Nasional sendiri diperingati setiap 2 Oktober. Batik Indonesia masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada 2009.

Baca Juga :  Bertemu Menteri ATR/BPN, Bupati Anas Cari Solusi Konflik Pertanahan di Kawasan Hutan

Khofifah menilai pengakuan tersebut harus diikuti upaya nyata agar tradisi membatik tetap hidup dan memiliki generasi penerus.

Karena itu, pengembangan batik membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, perajin, desainer, dunia pendidikan, pelaku pariwisata, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat.

“Dari Jawa Timur, kita bawa batik berlayar lebih jauh, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia,” pungkasnya. (FRI)