157 SMA/MA Program Double Track Pamerkan Karya dan Kreasi

oleh -1.617 views

Fajar Baskoro Tim IT program SMA/MA Double Track (Nova/kilasjatim/*)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Institut Tehnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Bersama Dinas Pendidikan Jawa Timur selama 2 tahun terakhir terus berupaya merealisasikan Merdeka Belajar melalui melalui aplikasi Double Track Support System yakni aplikasi program SMA/MA Double Track yang berjalan sejak tahun 2018 lalu.

Untuk mengenalkan kepada masyarakat luas, siswa yang telah mengikuti program SMA/MA Double Track (DT) di Jawa Timur akan menggelar pameran di Jatim International Expo, Surabaya pada Minggu (29/12/2019).

Fajar Baskoro Tim IT program SMA/MA Double Track mengatakan, pameran merupakan ajang menunjukkan karya atau hasil produksi kepada masyarakat terhadap pencapaian dari program yang sudah diterima siswa DT.

“Sebanyak 450 produk atau karya siswa DT dari masing masing sekolah yang menerapkan program DT akan menampilkan sekaligus menunjukkan kepada publik atas karya yang telah mereka capai,” kata Fajar kepada media di Surabaya Jumat (27/12).

Sebanyak 157 sekolah SMA /MA dari 28 Kabupaten di Jawa Timur mengikuti program pelatihan keterampilan khusus bagi siswa SMA ikut ambil bagian dalam even ini karena merupakan pilot project untuk memulai cakupan program yang lebih luas.

Ditambahkan Fajar, 157 sekolah ini merupakan pilot project yang dipilih karena 60 persen lulusannya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan sebagian siswanya berhasil menerapkan apa yang sudah didapatkan selama.pelatihan ekstra kurikuler di sekolahnya.

Akhir pekan ini, para sekolah ini akan menampilkan berbagai capaian karya dan produk yang telah dibuat oleh para siswa dalam dua tahun belakangan. Karya-karya ini melingkupi tujuh keterampilan, yaitu tata busana, tata boga, multimedia, kecantikan, listrik, teknik elektronik, dan TKR.

Pada pameran ini juga, Dinas Pendidikan Jawa Timur akan memberikan penghargaan pada sekolah sesuai dengan level pencapaian sekolah selama dua tahun program ini berjalan.

“Ada 3 level sekolah DT. Level pertama, sekolah yang sudah bisa menyelenggarakan pelatihan, sekolah yang bisa mengembangkan produk, dan sekolah yang siswanya sudah bisa mendapatkan manfaat (barang atau jasa berhasil dijual,” katanya.

Selain tiga level ini, ada juga sekolah yang dikategorikan level 0. Sekolah yang termasuk dalam level ini, merupakan sekolah yang belum mampu menyelenggarakan program ini, meskipun pada tahap penyelenggaraan pelatihan. Biasanya, sekolah pada level ini berada pada daerah yang terluar sehingga memiliki akses yang sulit, seperti pulau Masalembu, Sumenep.

“Sekolah yang belum mampuenyelenggarakan program DT ini hanya sekitar 5 persen karena memang banyak faktor seperti jaringan internet yang tidak lancar menjadi kendala tersendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Ani perwakilan Dinas Pendidikan Jatim menyatakan bahwa program ini secara spesifik belum mampu dinilai keberhasilannya.

“Tolak ukur keberhasilannya itu kan bagaimana respon atau sambutan masyarakat terhadap produk yang dijual dan apakah siswa mampu berdiri dan menjalankan bisnisnya tersebut. Saat ini belum bisa dinilai mengingat program ini masih berjalan dua tahun. Artinya, belum ada siswa yang lulus dan menguji keberhasilan program ini di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.
(kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.