Tim Unafeed Menangkan Kompetisi Bosch IoT Hackathon 2019

oleh

Tim Unafeed asal Yogyakarta berhasil memenangkan kompetisi Bosch Internet of Thing Hackathon 2019 yang finalnya berlangsung di kantor Bosch Cabang Surabaya di jl Diponegoro,  Kamis (17/10/2019)

SURABAYA, kilasjatim.com: -Tim Unafeed asal Yogyakarta yang terdiri dari Hermawan Caraka, Taufik Jati dan Lintang Wisesa berhasil keluar sebagai jawara 1a dan pemenang 1b  diraih Ceritech kategori smart agriculture yang ditetapkan di ajang kompetisi Bosch Internet of Thing Hackathon 2019 yang finalnya berlangsung di kantor Bosch Cabang Surabaya di jl Diponegor,  Kamis (17/10/2019)

Tim juri Bosch telah memenangkan tim Unafeed dari Jogyakarta yang mampu menciptakan ide kretif kekinian yang menciptakan mesin berteknologi peternak ikan sidat (sejenis belut)

Unafeed adalah alat pakan sidat ( Unagi eel) otomatis yang dilengkapi berbagai sensor untuk membantu peternak sidat meningkatkan efisiensi ternak.

“Unafeed ini bekerja dengan cara pengaturan, pola pemberian makan dan pemantauan kolam untuk optimal untuk pertumbuhan ikan sidak,” ujar Founder Unafeed, Herawan Caraka.

Alumni Universitas Gajah Mada ini mengakui ide itu tercetus bersama  dua rekannya berawal dari peternak ikan sidat yang belum memenuhi  standart yang ditetapkan negara Jepang untuk kandungan protein terhadap ikan tersebut.

” Harga sidat di Jepang sekitar Rp 900 ribu lebih / perkilonya. Namun, ikan sidat hanya laku di Negara Cina dengan harga kurang dari Rp 300 ribu,” ujarnya seusai presentasi.

Akibat, sering gagal panen dan tidak bisa memenuhi permintaan ekspor ke Jepang maka muncul ide menciptakan alat berteknologi dengan sensor-sensor dan pemantau agar ikan sidat lebih efisiensi berkembang biak secara akurasi.

”Alat ini tidak untuk dijual, tetapi bila memang mendukung dan dibutuhkan maka akan diproduksi secara masal. Dengan, bahan yang digunakan sekarang ini harga kisaran Rp 7 jutaan,, namun jika menggunakan peralatan dari Bosch harganya bisa mencapai Rp 50 juta,” jelas pria berkaca mata minus yang kini aktif sebagai start up berlabel perusahaan penyedia teknologi dan layanan global.

Ajang yang Bosch IoT Hackathon 2019 ini berkomitmen mewadahi dan mencetak ide-ide kreatif berkaitan dengan teknologi Informasi (TI) adalah mencetak kreatif handal anak muda ber-IoT.

Kiri – Kanan
Jochen Lorenz, Head of Business Development and Strategy of Bosch in Southeast Asia, Andrew Powell, Managing Director Bosch in Indonesia, Toto Suharto, Managing Director PT Robert Bosch Automotive

Dikatakan Toto Suharto, Managing Director PT Robert Bosch Automotive,  kompetisi tersebut menjaring ide-ide kreatif dari Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Untuk menumbuhkan, mempromosikan dan mendukung inovasi anak-anak muda yang cerdas digital dengan menantang mereka untuk mengembangkan solusi IoT yang difasilitasi Bosch.

“Untuk pertama kalinya Kota Surabaya menjadi ajang digital natives ini sebagai wadah generasi muda Surabaya untuk berkreasi mencipta solusi Internet of Things. Tentu, Bosch akan memberikan dana dukungan pengembangan ide kreatif itu,” kata Toto.

Pada kesempatan yang sama Andrew Powell, Managing Director Bosch di Indonesia menjelaskan

Bosch IoT Hackathon 2019 akan menyatukan para digital natives untuk beradu ide di ranah IoT guna memecahkan problematika di Indonesia.

“Terutama yang berkaitan dengan manufaktur pintar, mobilitas pintar, kota pintar, agrikultur pintar serta solusi IoT untuk peningkatan kualitas lingkungan,” kata Andrew.

Program ini adalah kompetisi perdana yang digelar perusahaan Jerma tujuannya  menumbuhkan, mempromosikan dan mendukung inovasi di Indonesia sekaligus mendorong kalangan muda Indonesia yang cerdas digital (digital natives) untuk mengeksplorasi solusi IoT lokal guna mengatasi problematika sekitar.

 “Tujuan kompetisi ini adalah menumbuhkan, mempromosikan dan mendukung inovasi anak-anak muda yang cerdas digital dengan menantang mereka untuk mengembangkan solusi IoT menggunakan Bosch XDK,” jelas Andrew Powell.

Bosch berupaya menemukan solusi IoT lokal baru di bidang smart manufacturing, smart mobility, smart cities, smart agriculture atau aquaculture, serta solusi yang membawa dampak positif bagi lingkungan dan sosial.

Dengan lebih dari 140 juta pengguna internet, pasar IoT di Indonesia diperkirakan bernilai USD 30 miliar (Rp 444 triliun) pada 2022 mendatang. IoT sendiri merupakan salah satu kemajuan teknologi kunci guna mendukung implementasi industri 4.0 di Indonesia; sebuah inisiatif untuk membantu mewujudkan visi negara dalam menjadi salah satu dari sepuluh besar ekonomi di tingkat global.

“Kompetisi ini bertujuan menumbuhkan kreativitas dan semangat inovasi di kalangan digital natives di Indonesia, yakni para maker, data scientist, hacker, IoT enthusiast dan developer,” imbuhnya.

Para finalis memiliki waktu 24 jam untuk bekerja dengan para pakar industri dari Bosch untuk secara lebih lanjut mengembangkan model bisnis mereka sebelum sesi pemilihan pemenang. Tim pemenang berhak menerima anggaran proyek serta bekerja secara kolaboratif dengan Bosch guna mengevaluasi komersialisasi dan potensi pasar dari ide-ide mereka.

Apabila menjanjikan, tim akan diundang menghadiri dan mempresentasikan proyek mereka di ajang Bosch Connected World 2020 di Berlin, Jerman.

Ajang ini berformat hackathon menantang sejumlah peserta untuk secara berkelompok saling berpacu menyusun dan mengembangkan ide sampai ke model bisnisnya, kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan tim juri.

“Harapan kami, langkah Bosch ini dapat mendorong anak-anak muda Indonesia yang kreatif dan inovatif untuk mengeksplorasi solusi Indonesia yang unik, dan yang terpenting, mengubah ide-ide mereka menjadi solusi yang terhubung untuk masa depan,” papar Andrew.  (kj2)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *