Tahun 2022, Alat Pembayaran Non Tunai QRIS Akan Gunakan Sidik Jari

oleh

Difi Ahmad Johansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dalam acara talkshow penggunaan dan manfaat QRIS bahi merchant di Pasar Atom Surabaya Jumat (13/03/2020)

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Difi Ahmad Johansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur optimis alat pembayaran secara non tunai seperti QRIS dua tahun ke depan tidak lagi menggunakan password atau scan barcode tetapi tehnologinya lebih maju lagi yakni menggunakan sidik jari atau scan retina mata.

“Saya berkeyakinan dengan tehnologi sekarang ini QIRS ke depan dengan scan sidik jari atau scan mata, sehingga lebih aman dan tidak bisa dibobol,” kata Difi di hadapan undangan para tenant pasar atom dalam acara talkshow penggunaan dan manfaat QRIS bagi merchant di pasar atom Surabaya di Cafe Atom, Jumat (13/03/2020).

Ditambahkan Difi yang menggembirakan sejak dilaksanakan sosialisasi seperti di IWAPI, di Masjid Al Akbar, Universitas Ciputra, Di Pamekasan, dan di Pasar Atom, respon masyarakat sangat baik dan luar biasa. Warga antusias untuk bisa menggunakan QRIS.

“Apa yg menjadi tujuan kami bahwa masyarakat memahami apa yang kami lakukan ini. QRIS adalah evolusi dari e money , uang elektronik dan e tol dengan masing masing PJSP. Nah QRIS hadir menyederhanakan alat pembayaran dari merchant merchant tersebut. Dengan kita belanja atau transaksi di retail uangnya pas dan bisa langsung masuk ke merchant, tidak lagi pakai uang pengembalian,” urainya.

Penggunaan QRIS bagi masyarakat Surabaya adalah hal yg biasa terutama bagi mereka yang terbiasa menggunakan alat pembayaran seperti Ovo, Go Pay, Dana dan lain lain. Difi berharap pedagang Pasar Atom yang jumlahnya mencapai 2000 tenan ini akan menjadi rawmodel bagi warga Surabaya dalam menggunakan alat pembayaran non tunai QRIS.

Di Hongkong sudah sejak lama menerapkan belanja pakai satu kartu namanya Octopus. Berharap Indonesia khususnya Surabaya dan Pasar Atom yang mengawali dengan QRIS.
Pembayaran dengan cara ini diharapkan menuju masyarakat yang efisien dan modern.

“Lima tahun ke depan toko toko di semua Plasa sudah menggunakan QRIS, penggunaan uang tunai sekarang ini – apalagi ramai virus corona.- dengan QRIS akan bebas dari kuman karena tidak menggunakan uang tunai. Dan akan memudahkan karyawan BI dalam bertugas. Karena selama isu Corona ini, mereka semua menggunakan masker. Pekerjaan mereka kan berkaitan dengan uang yang pastinya terjangkit kuman,” imbuh Difi.

Komisi XI DPR RI Indah Kurnia yang hadir di acara sosialisasi tersebut menambahkan, penggunaan QRIS adalah
upaya Bank Indonesia memudahkan transaksi perdagangan maupun konsumsi, selain aman mudah dan biayanya murah.

“Bagi merchant hanya dikenakan 0,7 persen. Namun kemudahannya tidak perlu lagi harus bawa banyak kartu, karena fasilitas pembayarannya cukup melalui gadget. Bayangkan saja saat ini ada 27 penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP), apa gak bingung,dengan satu QRIS respon pembayarannya sangat cepat dana berpindah dari rekening ke aplikasi,” kata Indah.

Terkait isu virus Corona, menurut Indah, semua sektor ekonomi di hampir semua negara terpuruk dan kondisi seperti ini tidak tahu sampai kapan.

“Pergerakan manusia dan barang makin sulit dan terhambat. Indonesia pesimis sekaligus optimis dengan slogan SDM unggul indonesia maju maka QRIS
merupakan jawaban kita semua dengan sistim pembayaran lebih baik buka wawasan tanpa menghambat pembeli dalam belanja,” kata Indah seraya menambahkan adanya QRIS dan semua masyarakat menerapkan maka komisi XI DPR RI tidak lagi harus menyetujui berapa uang yang harus dicetak, berapa uang yg harus dihancurkan. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *