Sukses Atlet Jawa Timur di Asian Games, Menuju Juara Umum PON Papua

oleh
Surabaya, kilasjatim.com: Jawa Timur (Jatim) sudah lama menyandang predikat gudangnya atlet nasional. Predikat itu, tak pernah luntur di percaturan olahraga nasional hingga kini. Di berbagai even internasional, Jatim selalu menyumbangkan duta-duta olahraganya untuk kontingen merah putih.
Pesta olahraga Asian Games XVIII yang digelar di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus-2 September 2018, menjadi bukti bagaimana dominasinya Jatim di kontingen Indonesia. Dari 937 atlet yang memperkuat kontingen Indonesia, 118 atlet diantaranya berasal dari Jatim. Selain atlet, Jatim juga menyumbangkan 22 offisial.
118 atlet Jatim tersebut berasal dari 39 cabor. Masing-masing, Anggar (2 atlet),  angkat besi (2), atletik (1), balap sepeda (4), baseball dan softball (1), bola basket (7), boling (4), bulutangkis (1), bridge (4), canoing (2), golf (2), gulat (4), hoki (2), judo (3), ju jitsu (2), karate (1), kurash (2), layar (1), loncat indah (2), panahan (4), panjat tebing (2), paralayang (7), pentathlon (1), pencak silat 4), renang (7), renang indah (1), rowing (1), sambo (1), senam (4), sepakbola (5), sepatu roda (4), squash (1), sepaktakraw (1), TBR (1), tenis lapangan (3), tenis meja (3), bola voli indoor (12), voli pantai (1), wushu (2).
Banyaknya atlet Jatim yang berlaga di Asian Games 2018, membuka peluang mendulang prestasi yang mengagumkan. Mereka akan bersaing dengan negara kuat di Asia, seperti China, Jepang, Korea Selatan dan sejumlah negara lain.
Kekuatan atlet Asia dewasa ini merata. Demi gengsi, negara- negara tersebut akan menurunkan atlet kelas dunianya. Namun, atlet Jatim tak perlu berkecil hati menghadapi keperkasaan jawara-jawara Asia.
Berbekal latihan keras di pelatnas, ditambah faktor tuan rumah akan menjadi modal utama atlet Jatim untuk memenuhi target. KONI Jatim pun optimis. Melihat potensi yang dimiliki para atletnya, KONI Jatim berani menaruh target 10 hingga 12 emas dari 16 medali emas yang ditargetkan kontingen merah putih.
Target 12 emas itu, sudah diperhitungkan matang. Acuan KONI Jatim dalam menentukan target adalah prestasi. Record prestasi yang diukir atlet Jatim belakangan mengalami banyak kemajuan. Sebut saja, Kevin Sanjaya dari atlet bulutangkis.
Selama menghuni pelatnas, Kevin yang berpasangan dengan Markus Gideon (DKI) di nomor ganda putra, meroket prestasinya. Gelar juara yang diraihnya di banyak turnamen membuat pasangan muda ini bercokol di peringkat satu dunia.
Ada juga Sarah Triamonita. Atlet pencak silat ini, menjadi juara dunia pencak silat 2018 di Swiss. Bahkan, Sarah dinobatkan sebagai pesilat terbaik di kejuaraan dunia tersebut.
Selain dua atlet itu, harapan ada di pundak atlet cabang olahraga (cabor) lain untuk menambah pundi-pundi medali emas kontingen Indonesia. Antara lain, Eko Yuli (angkat besi), Sance, Yobert, Roni (bridge), Felda (wushu), Rio Ega, Choirul Nisa (panahan), Syaiful Rijal (beregu sepak takraw), Erwin, Ririn (dayung) dan Jafro, Rika, Ike (paralayang).
Di luar mereka, KONI Jatim mengandalkan sejumlah atletnya yang berpeluang merebut emas. Para atlet itu diprediksi merebut medali perak dan perunggu, yang tak menutup kemungkinan bisa menyabet emas bila melihat perkembangan terakhir kondisi mereka di pelatnas.
Mereka adalah Hoiriyah (selancar angin), Tania (bowling), Eko, Aji Bangkit (pencak silat), Rini Maharani, Aulia (regu sepak takraw), Mugi, Spen, Mahendra Yanto (dayung), Rifki (karate), Rindi (panjat tebing) dan Christo Aldilia (tenis lapangan).
Mereka inilah tulang punggung dari kekuatan Jatim di PON 2020, Papua. “Di luar mereka, masih ada atlet Jatim lain yang berlaga di Asian Games. Prestasi mereka di Asian Games, menjadi tolok ukur keberhasilan Jatim merebut juara umum di PON nanti,” kata Ketua Umum KONI Jatim, Erlangga Satriagung.
Bagi Jatim, juara umum PON Papua sudah menjadi harga mati. Belajar dari kegagalan merebut juara umum PON XIX 2016 di Jabar, KONI Jatim telah mempersiapkan atlet secara matang. Formula khusus telah dipersiapkan KONI Jatim untuk membangkitkan kejayaan Jatim di PON Papua.
Formula khusus yang dimaksud adalah menghelat Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) dan merancang program tepat bagi atlet dengan berpilar pada sport science. ”Di Indonesia, baru Jatim yang menerapkan sport science secara sistematis. Yang lain mungkin juga menerapkan sport science, namun hanya parsial, tidak menyeluruh,” ujar Erlangga.
Sport science merupakan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam dunia olahraga yang berguna untuk membantu atlet dalam mencapai puncak performa dengan aman dan lebih terancang. Sport science meliputi tiga pilar utama. Yakni, kesehatan dan gizi, fisik, dan psikologis.
Konsep sport science yang diterapkan KONI Jatim makin lengkap dengan tambahan pilar baru, yaitu biomekanik. ”Sport science itu sudah seharusnya dilakukan. Karena kita ingin mencapai prestasi puncak itu by design. Sudah bukan zamannya lagi kalau hanya mengandalkan bakat atlet,” jelasnya.
Jajaran sport scientist yang dimiliki KONI Jatim cukup lengkap mulai tim fisik (Australia Barat), tim psikologi (Unair dan Unesa), serta ahli gizi (Unair). Bahkan, dalam penanganan atlet cedera, KONI Jatim menyerahkan sepenuhnya kepada sport clinic yang berada di bawah penanganan para ahli medis.
Melalui konsep sport science, KONI Jatim tidak khawatir akan kehabisan stok atlet. Bibit-bibit baru yang dibina dalam puslatda, bermunculan dan kemampuannya terus meningkat. Prestasi atlet lapis kedua nyaris menyamai atlet seniornya.
Atas dasar itu, KONI Jatim tak mempersoalkan serius dengan absennya beberapa atlet pilarnya yang tampil di Asian Games 2018 pada PON Papua, karena terkendala aturan pembatasan usia. Mereka antara lain Elga Karisma (balap sepeda), Kevin (bulutangkis) dan sejumlah cabor lainnya, Basket, sepakbola, bulutangkis dan bola voli.
“Ada pelapisnya dan sudah disiapkan. Kemampuan atlet pelapis berbeda-beda. Tapi, kalau sudah berbasis sport science, tidak ada istilah naik turun lagi. Semua lebih terukur, jadi bisa lebih konsisten,” tambah Erlangga.
PON Papua akan mempertandingkan 50 cabor dan memperebutkan 770 emas. KONI Jatim menargetkan meraih 20 persen dari total emas yang diperebutkan, yakni 144 emas.
Target 144 emas untuk bisa menggapai juara umum PON Papua ini, naik 12 emas dari perolehan medali Jatim pada PON Jabar sebanyak 132 emas,138 perak, dan 135 perunggu. Raihan 132 emas ini menempatkan Jatim di posisi runner up PON Jabar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *