SPE 2019 Pamerkan Tehnologi Digital Printing Target Transaksi Rp 250 Miliar

oleh

Pembukaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2019 dihadiri pengusaha dari mancanegara dan Ir. Taufiek Bawazier,  Direktur Industri  Kimia Hilir dan Farmasi Kementrian Perindustrian Kamis (01/08/2019)

SURABAYA, kilasjatim.com: – Surabaya Printing Expo (SPE) 2019 yang digagas PT Krista Media Exibhition di Grand City Surabaya tidak sekedar memamerkan produk cetakan saja, melainkan menampilkan kecanggihan tehnologi digital yang digunakan alat tersebut.

CEO Kristamedia Exhibitions, Daud D. Salim, penyelenggara Surabaya Printing Expo 2019, mengatakan gelaran pameran tahun ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, baik dari segi jumlah maupun teknologi printing yang dihadirkan.

“Tahun ini melibatkan 115 peserta pameran dari berbagai perusahaan printing, kalau tahun lalu hanya 75 peserta. Diharapkan jumlah pengujungnya juga bisa mencapai 12.000 orang selama pameran,” katanya saat keliling stan bersama tamu undangan VIP usai pembukaan, Kamis (01/08/2019)

Gelaran yang berlangsung selama 1–4 Agustus 2019 di Grand City Surabaya ini diperkirakan bisa terjadi transaksi langsung maupun B2B sekitar Rp 250 Miliar.

“Dari pengalaman sebelumnya di mana satu perusahaan rata-rata mampu menjual 10 unit mesin printing dengan harga bervariasi bahkan hingga Rp150 juta, kami optimis pameran kali ini transaksi bisa mencapai Rp 250 miliar,” tegasnya.

Sementara itu sehari sebelumnya, Ketua DPD Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jawa Timur, Iwan Dhamar Suprihartono menjelaskan kondisi
industri percetakan di tanah air diperkirakan akan tetap mengalami pertumbuhan.

Meskipun media cetak sudah banyak beralih ke digital, namun masih ada celah yang bisa digarap pengusaha di industri tersebut.

“Cetak untuk majalah dan lain-lain memang berkurang tetapi justru pindah ke kemasan makanan dan minuman. Saat ini lagi mengalami peningkatan permintaan dari pelaku industri UMKM yang terus tumbuh. Tentunya mereka membutuhkan kemasan yang didesain dengan kreatif. Baik itu di sektor makanan dan minuman, kemasan obat dan kosmetika pun masih membutuhkan kemasan yang dicetak,”  jelasnya.

Adanya kebijakan pemerintah yang melarang buku-buku katalog atau petunjuk untuk produk elektronik dan lainnya dicetak di luar negeri. Buku-buku kataolog dan petunjuk penggunaan alat elektronik terutama yang berbahasa Indonesia wajib dicetak di dalam negeri.

“Jadi cetaknya harus di Indonesia, tidak boleh diimpor dari negara lain. Ini sangat mendukung industri percetakan kita,” ujar Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani.

Sejauh ini, percetakan di segmen buku pemerintahan, buku pendidikan, majalah dan koran telah berkontribusi terhadap kinerja industri ini sekitar 50 persen, sedangkan di segmen packaging masih sekitar 30 persen, dan sisanya untuk segmen lain seperti printing security.

Kendati demikian, potensi industri percetakan ini terus mengarah pada mesin digital yang tidak perlu mencetak dalam jumlah banyak seperti mesin-mesin cetak kapasitas besar yang sekali produksi mencapai 1.000 – 20.000 cetakan. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *