Saat  Pandemi Justru Jumlah Investor Naik 4 Kali Lipat

oleh

KILASJATIM.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup turun 0,95% di level 5.979,07 pada perdagangan terakhir di tahun ini, Rabu (30/12/2020) yang ditutup oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Data BEI mencatat, nilai transaksi perdagangan mencapai Rp 14,02 triliun, dengan volume perdagangan 22,89 miliar saham, dan frekuensi perdagangan 1,16 juta kali transaksi.

Ada 118 saham naik, 383 saham turun, dan 121 saham stagnan. Tapi setelah berlaku 5 menit, 365 saham turun, 143 saham naik, dan 118 saham stagnan.

Secara year to date IHSG terkoreksi 5,13%, kendati secara 6 bulan terakhir melesat 19,8%.

Asing hari ini justru masuk di pasar reguler Rp 480 miliar, meski ada net sell di pasar nego dan tunai Rp 473 miliar.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi menyampaikan, target tersebut diyakininya dapat tercapai sejalan dengan meningkatnya nilai transaksi harian perdagangan bursa akhir-akhir ini.

Namun, angka tersebut, kata dia masih bisa ditinjau ulang secara gradual bila nilai transaksi ternyata di bawah target.

“Target [RNTH] 2021 bukan Rp 8,5 triliun, tapi Rp 8,8 triliun. Ya memang pada saat itu kita cukup optimis itu tercapai. Bulan-bulan ini transaksi luar biasa, kita syukuri, kita harapkan ke depannya cukup baik,” kata dia, dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Inarno melanjutkan, aktivitas perdagangan BEI pada tahun 2020 juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 32% menjadi 619.000 kali per hari di bulan November 2020. Pada periode yang sama, rata-rata nilai transaksi Harian (RNTH) berangsur-angsur pulih dan mencapai nilai Rp 9,18 triliun.

Kenaikan jumlah transaksi ini dibarengi dengan bertumbuhnya jumlah investor di pasar modal yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksa dana, mengalami peningkatan sebesar 56% mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) sampai dengan 29 Desember 2020.

Kenaikan investor ini 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir dari 894.000 investor pada tahun 2016.

Selain itu, investor saham juga naik sebesar 53% menjadi sejumlah 1,68 juta SID. Jika dilihat dari jumlah investor aktif harian, hingga 29 Desember 2020 terdapat 94.000 investor atau naik 73% dibandingkan akhir tahun lalu.

Meskipun di tengah pandemi Covid-19, minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal tidak surut.Hingga 30 Desember 2020, telah terdapat 51 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sehingga, sampai dengan saat ini terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Inarno melanjutkan, pada tahun depan, otoritas bursa juga menargetkan ada sebanyak 30 perusahaan baru yang mencatatkan saham di BEI. Jumlah ini terdiri dari pencatatan efek saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE) dan Efek Beragun Aset (EBA).

Acara penutupan pasar ini dihadiri (termasuk virtual) oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, dan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dan jajaran direksi SRO (Self Regulatory Organization), termasuk Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).

Sebagai perbandingan, tahun lalu, saat penutupan perdagangan saham, IHSG ditutup turun 29,77 poin atau 0,47% ke posisi 6.299,53. Saat itu, sebanyak 234 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. Sementara 195 saham menguat dan 151 saham stagnan.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai pada penutupan 30 Desember 2019, ketika itu total frekuensi perdagangan saham 439.878 kali dengan volume perdagangan 15,7 miliar saham dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 11 triliun.

Tahun depan, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) bursa mencapai Rp 8,8 triliun. Hal ini berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) tahun 2021 yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan. Nilai tersebut direvisi dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 8,5 triliun.. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *