Prof Dikman Angsar: Ketimpangan Gender Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia

oleh

Prof. M. Dikman Angsar dr.Sp.OG (K) spesialis Obstetri dan Ginekologi

SURABAYA, kilasjatim.com: Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia karena di negara yang menjunjung tinggi adat dan budaya ini masih didapati bahwa perempuan tidak boleh mengambil keputusan tanpa pertimbangan suami dan keluarga, termasuk soal akses pelayanan kesehatan melahirkan.

“Untuk melahirkan di rumah sakit saja harus berdasarkan keputusan suami dan keluarga besar, ini berpengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir,” kata Prof. M. Dikman Angsar dr.Sp.OG (K) spesialis Obstetri dan Ginekologi ditemui disela Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PIT POGI) ke-24 di Surabaya, Senin (8/7/2019)

Ditambahkan, tingginya angka itu, juga dipengaruhi oleh tradisi pernikahan dini. Terlebih tradisi ini didukung oleh regulasi yang bias gender, yaitu undang-undang Perkawinan tahun 1974 yang mengatur usia pernikahan minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

Selain soal tradisi dan budaya sejumlah persoalan juga menjadi penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia yakni kesenjangan akses pelayanan kesehatan berkualitas, keterlambatan pertolongan darurat, pengetahuan kesehatan reproduksi, deteksi dini dan pencegahan penyakit komplkasi kehamilan, serta belum terpadunya data dan informasi kesehatan.

“Kami berharap pemerintah menyediakan bagi ibu melahirkan dengan adanya fasilitas kesehatan, meningkatkan kualitas pelayanan persalinan, memperbaiki sistem rujukan persalinan dan meninjau kembali regulasi batas usia perkawinan,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi di banding negara negara lain. Berdasarkan hasil riset World Bank, tiap enam jam terdapat seorang ibu yang meninggal karena melahirkan di Indonesia terdapat 19 bayi yang meninggal pada setiap 1.000 kelahiran.

Karena itu menurut Dikman, pendekatan kesetaraan gender harus dilakukan. Perlu dibangun sistem yang kuat dan melibatkan banyak sektor. Mulai dari SDM kesehatan, sarana prasarana, metode, pendanaan serta lingkungan di sekitarnya.

Penerima PAKI Award 2019 Kulonprogo POGI Yogjakarta PIT diterimakan Kepala bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, drg. Hunik Rimawati (tengah)

Sementara itu, acara PIT POGI yang digelar di Surabaya ini juga memberikan PAKI (Penurunan Angka Kematian Ibu) PAKI Award kepada daerah di Indonesia yang dinilai berhasil menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

” Ini PAKI Award pertama kalinya diberikan kepada daerah yang berhasil menekan angka PAKI setiap tahunnya. dari 13 nominasi ditetapkan 3 pemenang yang berhak mendapatkan PAKI Award 2019. Yakni Kulon Progo POGI Yogyakarta (1) Tuban POGI Surabaya (2) dan Karawang POGI Jawa Barat,” kata dr. Mochammad Hud Suharyono, SpOG ( K ) Panitia Nasional PAKI Award 2019.

Pada kesempatan yang sama, Kepala bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, drg. Hunik Rimawati mengatakan keberhasilan wilayahnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya, merupakan kerja bersama lintas sektoral.

”Di Kulonprogo kami semua lintas sektoral menindaklanjuti yang sudah menjadi kebijakan bupati hingga di tingkat bawah. Bahkan aparat kepolisian juga ikut ambil peranan dalam hal ini,” ujarnya.

Selain itu juga berbagai macam terobosan dengan memanfaatkan IT yang memudahkan masyarakat berkomunikasi. Selain grup WA khusus ibu hamil juga ada SMS Gateway, kemudian berkembang menjadi Rindu KIA (Jejaring Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) serta Bumilku (Ibu hamil Kulonprogo).

Sedangkan peran serta para suami juga dilibatkan melalui pengurus kampung dengan pendekatan ke para calon bapak agar lebih peduli.

”Tak hanya para ibu hamil saja yang menjadi fokus kami, juga ada kelas ayah. Dengan begini ibu hamil tidak merasa sendiri. Ayah juga harus siap. Pendekatannya salah satunya melalui kegiatan kumpul-kumpul di kampung, itu kami sampaikan,” papar Hunik didampingi Kepala Puskesmas Kulonprogo. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *