Pilpres 2019, Rizal Ramli Belum Ambil Sikap

oleh

 


Surabaya, kilasjatim.com: Mantan menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli mengaku belum menentukan sikap dalam Pemilu Presiden (Pilpres) yang akan digelar 17 April 2019 mendatang. Apakah, akan memilih Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) atau Prabowo Subianto.

“Belum. Nanti lah tunggu waktu. Tidak harus sekarang,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, dia akan mengambil sikap jika pilpres sudah dekat. Sebab, masih ada beberapa masalah besar di negeri ini yang masih mengusik dirinya. Misalnya, dia tanya impor pangan yang luar biasa kepada Prabowo. Seandainya menang dalam Pilres 17 April 2019, taipan-taipan kalau impor pasti datang sebar uang triliuan, apakah Prabowo mau menerima atau tidak.

“Dia bilang sejak tak jadi tentara jadi ketua HKTI, saya betul-betul ingin kedaulatan pangan. Kalau saya mau menerima duit itu, sama saja saya menembak kaki sendiri. Itu jawaban bagus,” ungkapnya.

Pertanyaan serupa juga ditanyakan Rizal Ramli kepada Jokowi. “Saya juga nanya yang sama kepada Jokowi. Jika terpilih lagi sebagai presiden, apakah Pak Jokowi akan mempertahankan sistem kartel kuota tidak. Kalau masih mempertahankan sistem itu, saya akan kampanye jangan pilih Jokowi,” ujarnya.

Sebaliknya, tambahnya, jika jawabannya akan mengganti sistem ini supaya lebih adil, tapi saya minta bukti. Karena, selama ini tidak melakukan apa-apa kecuali impor. “Kasih dong contoh simbolik. Apa itu?. Pecat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, walaupun kurang tiga bulan lagi menjabat,” tegasnya.

Hal itu, lanjut Rizal, bisa menjadi simbol bahwa Jokowi mau ganti sistem kearah yang lebih baik. Namun, sampai sekarang Jokowi belum menjawab. Kalau Jokowi menjawab pecat menteri perdagangan, minimal ada harapan bahwa ada perubahan kebijakan.

“Resafel bisa. Kasih contoh dong. Dia ini kan rajanya impor. Total impor yang berlebih itu mencapai Rp 23 Triliun, dua kali dari total anggaran departemen pertanian. Lho Pemerintah ini bekerja untuk siapa, bekerja buat petani di Thailand dan Vietnam, petani besar garam di Australia,” paparnya.

Karena itu, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini, terang-terangan tidak setuju dengan tagline Jokowi, yakni kerja, kerja, kerja. “Kerja buat siapa. Malah tagline kiai Mahfud Ali Syaubari dari Ponpes Sidogiri lebih jelas. Yaitu, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. “Pak Jokowi musti belajar dari dia,” ucapnya sambil tertawa. (Wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *