Peluncuran Buku Cokelat Indonesia Pada Bareca Award2018

oleh

Surabaya,  kiilasjatim.com: Ternyata konsumsi cokelat di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 0,4% dari konsumsi cokelat dunia. Hal ini diungkapkan oleh Petrus Gandamana, pemerhati kuliner sekaligus PemRed media kuliner Bareca Magazine saat acara Bareca Appreciation Night di Surabaya (2/5/2018).

Dalam acara yang dihadiri para pelaku usaha kuliner berbahan cokelat, peneliti cokelat, PCPI (Perkumpulan Chef Profesional Indonesia), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), serta industri pengolahan cokelat tersebut, disampaikan bahwa cokelat yang nama latinnya adalah Theobroma Cacao, merupakan salah satu andalan Indonesia dalam menghasilkan devisa negara. Hal ini karena Indonesia adalah produsen biji kakao nomor tiga terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, dalam memajukan industri hilir di dalam negeri, terbukti membawa hasil positif dalam pengembangan Industri Kakao Indonesia. Salah satunya dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kakao dan Cokelat, demi menjaga kualitas Kakao dan Cokelat Indonesia yang beredar di dalam negeri.


Produk akhir dari kakao berupa makanan dan minuman cokelat yang disukai seluruh kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, banyak dijumpai di pasaran. Artinya bahwa sektor kakao mengalami kebangkitan yang mulai menghasilkan industri-industri kecil yang memproduksi cokelat yang dibuat semenarik mungkin.
Namun, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu kendala. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana industri kakao dapat berjalan, di tengah kelangkaan ketersediaan bahan baku, yaitu biji kakao? Hal ini tentu dapat membuat peluang bagi industri-industri kecil untuk berkembang menjadi terhambat. Inilah salah satu tantangan yang kerap dihadapi.

Petani kakao pun harus bisa melakukan regenerasi; bagaimana menarik minat anak-anak muda untuk terjun di perkebunan kakao, sehingga kakao Indonesia bisa terus maju baik di dalam negeri sendiri maupun di mata dunia.

Salah satu industri pengolahan cokelat besar di tanah air adalah PT Gandum Mas Kencana, yang selama lebih dari 30 tahun mengolah berbagai bentuk cokelat olahan untuk digunakan di industri makanan seperti bakery, pastry, confectionery, restauran, café, katering dan industri food service pada umumnya. Perusahaan ini sangat menaruh perhatian khusus atas berkembangannya apresiasi masyarakat terhadap cokelat produksi Indonesia.

Sebagai produsen cokelat terkemuka dengan merek Colatta dan Bendico, sedari semula PT Gandum Mas Kencana mempunyai visi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggannya melaui kegiatan-kegiatan edukatif dan inovatif termasuk membantu sebagai sponsor dalam penerbitan buku Chocolate : From Cacao Bean to Bar, The Indonesian Heritage Treasure.

Kehadiran buku Chocolate : From Cacao Bean to Bar, The Indonesian Heritage Treasure, diharapkan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia dalam memahami dan menghargai konsumsi cokelat dalam negeri.

Kepada perusahaan-perusahaan produsen makanan berbasis cokelat di dalam negeri yang menghasilkan produk berkualitas tinggi serta kepada para insan pengajar produk makanan yang memakai cokelat, adalah selayaknya diberikan semangat dan dukungan di antaranya melalui pemberian Bareca Award, yang dilaksanakan oleh Bareca Media di awal tahun 2018 ini.

“Kami berharap bahwa kami dapat mendorong pertumbuhan bisnis cokelat di Indonesia dan dengan acara ini serta diluncurkannya buku cokelat ini dapat memberikan semangat bagi para insan cokelat di Indonesia,” demikian Susanna S. Solichin, President Director PT Gandum Mas Kencana menyampaikan pesan. Kj4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *