Negara Bakal Hancur Jika Bersandar Pada Sektor Migas

oleh

*Lokakarya Media 2019 SKK Migas-KKKS Wilayah Jabanusa

Kepala Divisi Formalitas SKK MIgas Didik Wasono Setyadie dalam paparannya di acara Loka Karya Media se Jatim 2019 di Surabaya Senin (22/04/2019).

 

SURABAYA, kilasjatim.com: – Indonesia harus menyikapi dengan bijak agar tidak bersandar pada sektor migas dalam hal pendapatan negara. Karena akan menjadi ancaman besar bagi kelangsungan negara dan  akan bisa hancur karenanya.

Saat ini komsumsi BBM Indonesia yang mencapai 1,4 juta Barrel perhari dengan Jumlah Produksi yang hanya 760 barel perhari harus disikapi dengan bijak .

Hal ini disampaikan Kepala Divisi Formalitas SKK MIgas Didik Wasono Setyadi kepada sejumlah media di acara Loka Karya di Surabaya, dicontohkan kondisi negara Venezuela saat ini yang terpuruk lantaran menjadikan sumber migasnya sebagai tumpuan bagi pendapatan negara.

“Disaat harga minyak jeblok, Venezuela mengalami kondisi yang sangat sulit hingga saat ini danengalami krisis berkepanjangan hingga saat ini,” kata Didik di Lokakarya Media di Surabaya Senin (22/04/2019).

Didik juga mencontohkan negara yang berhasil yakni Dubai dan Abudabi, yang kaya dengan sumber minyaknya namun tidak menjadikan minyak sebagai sumber utama pendapatan negara, tetapi hanya dijadikan sebagai lokomotif ekonomi untuk mendorong perekonomian bidang lainnya.

Dulu, sebagian besar pendapatan Dubai ditopang oleh migas, tetapi sekarang tidak. Dubai telah berubah menjadi kota berbasis jasa. Menjadi kota masa depan,” tegas Didik saat Lokakarya Media 2019 SKK Migas-KKKS Wilayah Jabanusa di Surabaya, Senin (22/4/2019).

Didik mengatakan bahwa paradigma migas sebagai sektor yang berkontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah harus diubah. Hal ini mengingat harga minyak yang selalu mengalami fluktuasi tanpa bisa diprediksi. Selain itu, migas termasuk sumber kekayaan alam yang tidak bisa terbarukan dan akan habis.

“Dubai memiliki kesadaran lebih awal dengan mengembangakan kotanya menjadi kota masa depan. Dengan posisinya sebagai kota strategis, Dubai memiliki dua penerbangan terbaik di dunia Emirates Airline dan Etihad Airways,” ujarnya.

Ditambahkan, Dubai itu kota kecil yang cepat sadar akan kondisi itu, namun tidak demikian dengan Venezuela yang sempat berjaya dengan produksi migasnya yang cukup besar, dan berakhir dengan keterpurukan seiring dengan turunnya harga minyak.

Menurut Didikan saat ini, Indonesia sudah mulai melakukan perubahan. Pasca penurunan harga minyak dunia beberapa tahun yang lalu, dengan tidak lagi mengandalkan migas sebagai sektor dengan pendapatan terbesar negara.

“Kontribusi sektor migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini kurang dari 10 persen. Padahal pada zaman orde baru, kontribusi migas terhadap PDB bisa mencapai 60 persen hingga 70 persen. Migas bukan lagi menjadi satu-satunya sumber pendapatan tetapi sebagai lokomotif ekonomi,” tegasnya. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *