Mensos: Maknai Idul Adha Sebagai Momentum Untuk Bangkit Kembali

oleh

Lombok,  kilasjatim.com: Menteri Sosial Idrus Marham menjadi khotib dalam salat Iduladha yang dihadiri ratusan pengungsi di Posko Induk Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Rabu pagi.

“Pada hari ini, seluruh umat Islam di mana pun mereka berada, di sudut-sudut bumi Allah, menyerukan takbir dan tahmid, memuji keagungan-Nya, bersimpuh di hadapan kebesaran-Nya, melaksanakan sholat Idhul Adha dengan tujuan yang sama, yakni secara sadar dan ikhlas menyatakan kelemahan diri sebagai hamba-Nya, berpasrah diri secara total di hadapan Allah SWT, seraya memohon pengampunan, perlindungan dan pertolongan-Nya,” tutur Menteri mengawali khotbahnya.

Dikatakan Mensos, meskipun cobaan berat menimpa warga Lombok, namun harus tetap bersyukur dan memuji kebesaran Allah SWT, karena Allah tetap menganugerahkan iman dan Islam sebagai landasan hidup.

“Kita semua harus yakin bahwa iman dan Islam adalah karunia yang tak terhingga nilainya, dan menjadi kekuatan yang dahsyat dalam menghadapi segala tantangan dan ujian apapun bentuknya. Sebagai umat Allah SWT harus yakin bahwa hanya dengan iman yang kuat, membuat kita bisa berdiri di segala medan. Hanya dengan iman maka manusia memiliki semangat, kesabaran, keikhlasan, dan tawakal, sehingga mampu bangkit menghadapi setiap musibah dan ujian,” paparnya.

Mensos mengatakan Iduladha kembai mempertemukan umat Islam di seluruh dunia pada satu peristiwa untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS terhadap ujian keimanan dan ketaqwaan mereka.

“Nabi Ibrahim AS telah menikah beberapa lama namun belum memiliki anak. Kemudian beliau berdoa dengan penuh kesabaran hingga akhirnya memiliki keturunan di usia menjelang 90 tahun. Allah memberikan putra Nabi Ismail AS. Namun ketika ia mulai tumbuh besar, turun perintah Allah yang mungkin sangat berat dan berbeda dengan harapan. Di saat Nabi bersuka cita memiliki anak diminta untuk menyembelih anaknya,” katanya.

Hal ini, lanjut Mensos, merupakan ujian keimanan, ujian ketaqwaan, ujian kesabaaran dan ujian keikhlasan bagi Nabi Ibrahim yang kemudian pada akhirnya keduanya mengikuti yang diperintahkan oleh Allah.

“Ibrahim menerima perintah tersebut karena dilandasi oleh *pertama* karena prinsip hidup Tauhid yang kuat, Tuhan sebagai penentu segala-galanya; *kedua,* keikhlasan melaksanakan perintah sebagai sebuah ibadah, tanpa pamrih apapun kecuali mengharap Ridho Allah semata; *ketiga,* kesabaran menjalankan perintah Allah dengan penuh tawakkal; *keempat,* Nabi Ibrahim tidak pernah berputus asa,” terangnya.

Menteri mengatakan gempa bumi yang melanda Lombok dan sekitarnya merupakan ujian dan takdir Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai insan yang beriman, harus mampu untuk menyikapi musibah ini sebagai ujian.

“Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surah Al Mulk Ayat 2 yakni Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa ladi Maha Pengampun,” papar Idrus yang pernah menjadi Ketua Dewan Pembina Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).

Ia menjelaskan Allah menguji hambaNya yang beriman melalui berbagai cara untuk mengetahui kualitas keimanannya. Ada yang diuji dengan kekayaan dan harta benda yang melimpah, ada yang diuji dengan pangkat dan jabatan, ada yang diuji dengan kemiskinan, serta ada yang diuji dengan bencana.

“Sebagai umat yang beriman, maka kita harus mampu menghadapi semua jenis ujian tersebut sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah SWT dan yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As,” kata Idrus.

*Pertama,* dalam menghadapi musibah sebagai ujian keimanan kepada Allah SWT, jangan pernah berhenti meminta pertolongan-Nya, karena apabila Allah telah menolong hamba-Nya tidak akan ada yang dapat mengalahkannya.

*Kedua,* Al Qur’an memberi tuntunan bahwa cara paling arif menyikapi musibah ialah kembali menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, memperkuat kesabaran, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah sambal mendekatkan diri dengan memperbanyak sholat, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah Ayat 153 “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah Bersama orang-orang yang sabar.”

*Ketiga,* jika kita memperdalam penghayatan kepada musibah, maka kita akan bersikap lebih arif kepada musibah itu, bahwa ternyata di balik setiap musibah pasti ada hikmahnya. Bahkan, bisa jadi musibah itu adalah “surat cinta” Tuhan kepada hamba-Nya. Hamba yang sejati adalah hamba yang tidak pernah berburuk sangka kepada siapapun termasuk kepada Allah SWT, bahkan tidak pernah sibuk mencari kambing hitam dengan kehadiran sebuah musibah, melainkan mereka belajar dan mengambil hikmah di balik musibah itu.

Sebagai akhir dari khotbah, Mensos mengajak warga Lombok untuk melihat korelasi antara hikmah Iduladha dengan sikap umat Islam dalam menghadapi musibah bencana alam.

“Apabila kita melihat Idul Adha dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan kemanusiaan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan menuju kehadirat dan keridhoan Allah SWT, sejatinya Iduladha kita jadikan sebagai momentum kebangkitan masyarakat Lombok untuk mengatasi musibah yang dihadapi,” tuturnya.

Dengan dasar-dasar nilai ketauhidan, masyarakat Lombok harus yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya dan tidak akan membiarkan HambaNya menerima musibah di luar kemampuannya. Dengan keikhlasan masyarakat Lombok dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah sehingga baik langsung maupun tidak langsung beban hidup akan terasa lebih ringan. Dengan ikhtiar dan doa yang tiada putus-putusnya kepada Allah SWT, masyarakat Lombok harus optimistis dapat bangkit kembali dari kesedihan, serta membangun kembali Lombok demi menyongsong masa depan yang lebih baik.

“Dengan ikhtiar dan doa yang tiada putus-putusnya kita panjatkan Kehadirat Allah SWT, kita yakin bahwa Lombok bangkit dan membangun kembali masyarakatnya, dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” harap Mensos menutup khotbahnya.

*Tangis Haru*
Sementara itu Salat di tengah tanah lapang di depan tenda-tenda pengungsian berlangsung khidmat dipimpin imam Ustad M Faiz, dilanjutkan khotbah oleh Menteri Sosial Idrus Marham. Jamaah yang terdiri dari pengungsi, berbagai unsur relawan, TNI, Polri, perwakilan kementerian dan lembaga tampak larut dan lebur dalam suasana. Tangis pengungsi pecah saat Mensos menyelesaikan khotbah dan memimpin doa bersama.

“Sabar ya, Mak. Kita harus sabar,” ujar Nur Rohmah (35) seraya memeluk ibunya yang menangis di atas hamparan terpal alas salat.

Sambil menggenggam mukenahnya, sang ibu terus menitikkan air mata. Di shaf yang lain tampak ibu-ibu memeluk anak-anak perempuan mereka dengan mata berkaca-kaca. Suasana haru ini juga terjadi di antara jamaah pria.

“Terharu rasanya, tidak menyangka tahun ini salat Iduladha di pengungsian. Tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tapi saya bersyukur kami sekeluarga selamat,” tutur Nur.

Setelah khotbah, Mensos bersalam-salaman dengan pengungsi dilanjutkan dengan penyerahan tujuh sapi hewan kurban kepada panitia Iduladha di Posko Tanjung. Hewan kurban tersebut adalah dari Presiden Joko Widodo, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Sosial Idrus Marham, Menpan RB Syafruddin, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala BIN Budi Gunawan, dan Wakil Bareskrim Polri Antam Novambar.

Mensos mengunjungi NTB selama dua hari yakni 21—22 Agustus 2018. Kunjungan kerja Menteri Sosial pada Selasa (21/8) diawali dengan mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla mengunjungi pengungsian Dusun Kakait Kampung Bandung Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat dilanjutkan Rapat Koordinasi Penanganan Gempa NTB yang dipimpin Wapres.

Setelah itu Mensos menyaksikan penyerahan santunan ahli waris korban meninggal akibat gempa, serta menyerahkan Mobil Truk Serbaguna untuk Dinas Sosial Provinsi NTB.

Pada hari yang sama Mensos mengunjungi korban bencana dan menyaksikan kegiatan Dapur Umum yang dikelola Tagana Jatim di Lapangan Menggala Pemenang. Di sini Menteri juga meninjau pendistribusian santunan ahli waris di Kantor Kecamatan Pemenang dan memberikan arahan serta penguatan kepada keluarga korban meninggal.

Selanjutnya pada hari ini, Rabu (22/8), usai melaksanakan salat Iduladha, Mensos kemudian mengunjungi Dapur Umum Lapangan yang dikelola Taruna Siaga Bencana (Tagana) Indonesia dan sarapan bersama para pengungsi dan tokoh masyarakat setempat. Menteri juga memantau pelaksanaan pencairan bansos Program Keluarga Harapan (PKH) di lokasi pengungsian.

“Penerima PKH banyak yang menjadi korban gempa, rumah mereka hancur, harta benda tidak ada yang tersisa. Semoga pencairan bansos PKH tahap ketiga ini dapat meringankan beban aygn mereka alami,” harap Menteri.

Data Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial menyebutkan Penerima PKH yang terdampak gempa adalah 19.735 keluarga dari 20.212 keluarga. Sementara untuk Lombok Barat dan Lombok Timur pendataan masih terus dilakukan.

“Mayoritas mereka kehilangan buku tabungan dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Saya sudah sampaikan kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk segera mengganti buku dan KKS yang hilang,” kata Menteri. Kj1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *