Losses Listrik Di Madura Capai Angka 18.65%.

oleh

PLN Mengedukasi 160 Santri dan Alim Ulama Mengenai Kelistrikan

 

Dwi Kusnanto General Manager PT PLN Distribusi jatim bersama Ketua Panitia dan Dewan Akhwan Pak Ustad Tohir yang mewakili Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Kyai Haji Abdul Hamid, dan Praktisi ketenagalistrikan Heru Subagiyo dalam acara workshop mengenai kelistrikan melalui program PLN Peduli dalam
rangkaian acara “Pekan Ngaji 3” di Pamekasan Sabtu (27/01/2018)

 

PAMEKASAN, kilasjatim.com: – PT PLN (Persero) Area Pamekasan mengedukasi 160 santri dan mahasiswa serta
alim ulama se-Pamekasan
mengenai kelistrikan melalui program PLN Peduli dalam
rangkaian acara “Pekan Ngaji 3”.

Edukasi beruoa workshop ini bertema “Sistem Ketenagalistrikan yang Cukup, Aman, dan Handal Untuk Menuju Perubahan dan Perkembangan Ekonomi Nasional” di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Sabtu (27/01/2018)

Ketua Panitia dan Dewan Akhwan Pak Ustad Tohir yang mewakili Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Kyai Haji Abdul Hamid, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada PLN yang telah banyak berkontribusi pada edukasi para santri.

“Tema yang diusung dalam workshop kali ini cukup unik yaitu “Ngaji Listrik”, tema yang bermakna memiliki spirit menggali edukasi kelistrikan dengan mengedepankan akhlak yang mulia yang dimiliki setiap insan manusia,” katanya.

Gayung bersambut, pihak PLN yang dihadiri General Manajer PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Dwi Kusnanto menyamoaikan seluruh insan pondok agar peduli listrik. Acara ini juga menghadirkan
Akademisi sekaligus Praktisi ketenagalistrikan Heru Subagiyo.

Dwi mengatakan, kelistrikan, khususnya di Pulau Madura menjadi perhatian khusus adanya kondisi losses listrik yang menunjukkan angka 18.65%. Angka tersebut menggambarkan besaran gap yang terjadi antara daya yang disalurkan oleh PLN dengan pencatatan penjualannya.

“Gap adalah susut penjualan, hal tersebutlah yang juga menjadi dasar pelaksanaan workshop ini diselenggarakan oleh PLN Area Pamekasan. Kepada peserta, dengan adanya edukasi kepada para insan pondok diharapkan dapat menularkan kepedulian terhadap listrik ke masyarakat seluas-luasnya sehingga suatu saat Madura terbebas dari susut listrik,” jelas Dwi.

Sementara Heru Subagiyo memaparkan pentingnya listrik dalam kehidupan manusia, permasalahan yang biasa timbul dalam pemanfaatan listrik, tips penggunaan dan perlakuan listrik secara baik serta keamananan dan keselamatan dalam mengoperasikan peralatan listrik.

Pada sesi kedua, peserta diajak melihat langsung proses distribusi sistem listrik serta pemeliharaan jaringan.
Selain itu, peserta juga diajak untuk mengetahui gangguan pada instalasi pemanfaatan tenaga listrik, seperti apabila kualitas material standarnya rendah, pemasangan yang tidak memenuhi standar, kerusakan pada kabel, sakelar hingga IPTL yang tersiram air/terendam air.

Dwi berharap keterlibatan masyarakat secara umum untuk mewujudkan terwujudnya ketenagalistrikan yang andal, aman, dan ramah lingkungan. Upaya tersebut berupa tidak bermain layang-layang di dekat jaringan, tidak membakar sampah di dekat jaringan, menggunakan listrik secara legal, serta ikut menjaga dan memelihara jarak aman/ruang bebas (ROW) pada jaringan.

Peserta yang berasal dari kalangan pondok pesantren dan mahasiswa ini dilengkapi dengan toolset/peralatan kelistrikan sehingga diharapkan dapat langsung mengaplikasikan ilmu kelistrikan tersebut ke masyarakat. (kj5)

PLN Mengedukasi 160 Santri dan Alim Ulama Mengenai Kelistrikan

PAMEKASAN, kilasjatim.com: – PT PLN (Persero) Area Pamekasan mengedukasi 160 santri dan mahasiswa serta
alim ulama se-Pamekasan
mengenai kelistrikan melalui program PLN Peduli dalam
rangkaian acara “Pekan Ngaji 3”.

Edukasi beruoa workshop ini bertema “Sistem Ketenagalistrikan yang Cukup, Aman, dan Handal Untuk Menuju Perubahan dan Perkembangan Ekonomi Nasional” di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Sabtu (27/01/2018)

Ketua Panitia dan Dewan Akhwan Pak Ustad Tohir yang mewakili Pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Kyai Haji Abdul Hamid, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada PLN yang telah banyak berkontribusi pada edukasi para santri.

“Tema yang diusung dalam workshop kali ini cukup unik yaitu “Ngaji Listrik”, tema yang bermakna memiliki spirit menggali edukasi kelistrikan dengan mengedepankan akhlak yang mulia yang dimiliki setiap insan manusia,” katanya.

Gayung bersambut, pihak PLN yang dihadiri General Manajer PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Dwi Kusnanto menyamoaikan seluruh insan pondok agar peduli listrik. Acara ini juga menghadirkan
Akademisi sekaligus Praktisi ketenagalistrikan Heru Subagiyo.

Dwi mengatakan, kelistrikan, khususnya di Pulau Madura menjadi perhatian khusus adanya kondisi losses listrik yang menunjukkan angka 18.65%. Angka tersebut menggambarkan besaran gap yang terjadi antara daya yang disalurkan oleh PLN dengan pencatatan penjualannya.

“Gap adalah susut penjualan, hal tersebutlah yang juga menjadi dasar pelaksanaan workshop ini diselenggarakan oleh PLN Area Pamekasan. Kepada peserta, dengan adanya edukasi kepada para insan pondok diharapkan dapat menularkan kepedulian terhadap listrik ke masyarakat seluas-luasnya sehingga suatu saat Madura terbebas dari susut listrik,” jelas Dwi.

Sementara Heru Subagiyo memaparkan pentingnya listrik dalam kehidupan manusia, permasalahan yang biasa timbul dalam pemanfaatan listrik, tips penggunaan dan perlakuan listrik secara baik serta keamananan dan keselamatan dalam mengoperasikan peralatan listrik.

Pada sesi kedua, peserta diajak melihat langsung proses distribusi sistem listrik serta pemeliharaan jaringan.
Selain itu, peserta juga diajak untuk mengetahui gangguan pada instalasi pemanfaatan tenaga listrik, seperti apabila kualitas material standarnya rendah, pemasangan yang tidak memenuhi standar, kerusakan pada kabel, sakelar hingga IPTL yang tersiram air/terendam air.

Dwi berharap keterlibatan masyarakat secara umum untuk mewujudkan terwujudnya ketenagalistrikan yang andal, aman, dan ramah lingkungan. Upaya tersebut berupa tidak bermain layang-layang di dekat jaringan, tidak membakar sampah di dekat jaringan, menggunakan listrik secara legal, serta ikut menjaga dan memelihara jarak aman/ruang bebas (ROW) pada jaringan.

Peserta yang berasal dari kalangan pondok pesantren dan mahasiswa ini dilengkapi dengan toolset/peralatan kelistrikan sehingga diharapkan dapat langsung mengaplikasikan ilmu kelistrikan tersebut ke masyarakat. (kj5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *