Komunitas Muda Surabaya Gelar Pertemuan Sikapi Pilpres 2019 di Rumah Tjokro

oleh

 

Surabaya, kilasjatim.com: Sejumlah pimpinan komunitas anak muda Surabaya mengadakan acara diskusi di rumah bersejarah HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Sabtu malam (5/6/2019). Diskusi bertema “Resolusi Pemuda di Tahun Politik” ini menghadirkan pembicara cendekiawan muda, Dr Dimas Oky Nugroho, dan novelis anak muda, dr Intan Andaru, yang juga merilis novel terbarunya, Perempuan Bersampur Merah.

Dalam pertemuan tersebut para pemuda mendiskusikan berbagai isu terkait keanakmudaan dan partisipasi politik serta kewirausahaan sosial ekonomi. Dimas yang juga pendiri kursus pelatihan kepemimpinan anak muda Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) mengatakan tanggung jawab anak muda untuk terlibat dalam mengawal proses demokrasi dan pembangunan di Indonesia ke depan.

“Pelajar, santri, mahasiswa, aktivis, profesional, wirausahawan muda, bahkan politisi muda adalah masa kini dan masa depan kepemimpinan bangsa. Kita semua harus bersiap dan mempersiapkan transformasi kebangsaan. Untuk itu, sebagaimana negara-negara besar lain, sejak dini negara dan masyarakat sipil, juga partai politik, bertanggung jawab melibatkan dan mendidik anak-anak muda baik dalam hal kapasitas dan integritas”, tutur Dimas.

Dimas meminta anak-anak muda untuk tidak termakan oleh berita-berita menyesatkan. Ia mendorong berpikir kritis namun tetap harus objektif dan produktif. “Hari-hari ini, bahkan sejarah mengajarkan kita, hanya bangsa yang berkapasitas, berkinerja dan produktif secara sosial ekonomi dalam membangun diri dan masyarakatnya yang akan bertahan dari tajamnya kontestasi ekonomi politik global”, tambah Dimas.

Bersikap objektif, adil dan jujur ini juga menjadi perhatiam novelis dr Intan Andaru. Intan yang telah memproduksi 4 novel ini menulis tentang isu-isu berlatar sejarah dan drama kemanusiaan yang terjadi di Indonesia dan bagaimana masyarakat mampu menghadapi persoalan tersebut. “Pengembangan sastra sebaiknya memang harus menjadi rujukan utama penguatan literasi anak-anak muda sehingga mereka lebih sensitif dan dinamis dalam menjalani proses kehidupan dan proses produksi kreatif yang dilakukan”, tutur dokter muda alumni Universitas Airlangga berusia 28 tahun ini.

Intan berharap dengan belajar dari sastra dan sejarah maka benturan sosial dan drama-drama politik yang menghasilkan kekerasan massa tidak terjadi lagi di Indonesia.

Baik Dimas dan Intan meminta anak muda memperkuat konsensus untuk dapat menghindari diri dan komunitasnya dari ajakan-ajakan kekerasan politik baik di tingkatan media sosial dan riil keseharian dalam menjalani tahun politik 2019 ini. Kj3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *