Khofifah Tidak Hadir di Acara Deklarasi Calon Kepala Daerah Partai NasDem

oleh

SURABAYA – Hubungan baik Bakal calon gubernur (Bacagub) Khofifah Indar Parawansa dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem), salah satu partai pengusungnya di Pemlihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018, memang patut dipertanyakan. Ini seiring ketidakhadirannya dalam dalam acara Deklarasi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah Partai Nasional Demokrat (NasDem) di Hotel Simpang, Surabaya, Kamis (4/1).

Padahal, acara tersebut sekaligus penyerahan rekomendasi dukungan kepada calon kepala daerah yang diusung Partai NasDem. Sejumlah pengurus teras DPP Partai NasDem, juga hadir. Seperti Ketua DPP Partai NasDem, Effendy Choirie (Gus Choi) dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan NasDem, Hayono Isman.

Sebelumnya,Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW Nasdem Jatim, Muzammil Syafi’il menyebut  ada dua faktor yang menyebabkan rekomendasi NasDem tidak segera turun ke Khofifah-Emil. Salah satunya karena tidak ada komunikasi yang intensif antara Khofifah dan NasDem.

Absennya Khofifah, membuat surat keputusan DPP Partai NasDem yang berisi rekomendasi dukungan pasangan Khofifah-Emil Dardak, diserahkan secara simbolis kepada Emil Dardak. Bupati Trenggalek ini hadir di acara tersebut seorang diri.

Meski tanpa dihadiri Khofifah, Ketua DPW Partai NasDem, Rendra Kresna Khofifah tidak mempersoalkan. Dia beralasan Khofifah absen, lantaran bersamaan waktunya dengan kegiatan Kementerian Sosial di daerah. “Bu Khofifah ada acara kementerian sosial, sehingga tidak bisa hadir,” katanya kepada wartawan usai acara.

Menurutnya, acara penyerahan rekomendasi dukungan pasangan Khofifah-Emil ini hanya simbolis. Secara de facto dan de jure-nya, sudah dilaksanakan di DPP. “Andai kata Emil tidak hadir juga tidak masalah, karena rekomnya sudah diserahkan di DPP, kemarin,” tandasnya.

Pihaknya juga tidak mempersoalkan Emil Dardak yang menjadi pilihan Khofifah sebagai wakilnya. Bukan Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni, yang sebelumnya digadang-gadang NasDem menjadi calon wakil Khofifah di pilkada Jatim, 28 Juni mendatang.

“Kita yang mengajukan dan menyadari bahwa kita berkoalisi. Setiap partai tentu ingin mengajukan wakilnya. Tapi, kita menyadari pada akhirnya Khofifah yang menentukan pilihan. Khoififah menentukan wakil tak jauh dari yang kita inginkan, baik dari sisi kapabilitas, aksepbilitas dan citra kekiniannya,” paparnya. Kj2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *