Kesehatan Anak Lebih Penting

oleh

 

Malang,  kilasjatim.com: Sekolah bukan hanya belajar mengejar nilai tinggi. Lebih dari itu, siswa harus paham pentingnya kesehatan dan terutama pada pelajar perempuan. Seperti yang diajarkan di SMPN 10 Kota Malang.

“Nilai penting, tapi pendidikan ahlak dan kesehatan anak jauh lebih penting,” kata Kepala Sekolah SMPN 10, Supandi S. Pd, M. Pd, Kamis (1/10).

Pendidikan kesehatan diterapkan dalam keseharian di sekolah, seperti wajib membawa bekal sayur selain lauk dan nasi. Caranya dengan memeriksa setiap bekal siswa oleh guru kelas. Anjuran minum air putih delapan gelas sehari serta tidak boleh membawa bekal yang mengandung sampah.

Guna mendukung program minum air sebanyak mungkin, dilakukan dengan menyediakan kran siap minum di sejumlah titik lahan sekolah. bukan hanya menyediakan gelas di kran, sejumlah siswa juga diperbolehkan isi ulang botol minumnya.

“Harga kebijakan itu mahal, merugikan kalau berpikir bisnis. Kalau berpikir kesehatan tidak,” terangnya.

Menurutnya, sebelum kebijakan sekolah sehat ditetapkan sekitar lima tahun lalu, setiap tahun sekolah mendapat pemasukan dari sampah plastik dan keuntungan menjual air mineral kemasan plastik sampai Rp. 15 juta/tahun.

Namun, ia merasa resah. Sebab jumlah sampah yang dihasilkan cukup banyak. Berangkat dari sana, ia memutuskan program sekolah sehat, bekerja sama dengan PDAM Kota Malang dengan menyediakan air langsung diminum. Dengan membayar iuran Rp. 2 juta/bulan.

“Saya berharap apa yang kami ajarkan dapat diterapkan di rumah, sampai dewasa kelak,” ungkapnya.

Sementara, Reni Setyawati Prodjo, guru keputrian dan tata boga, menyampaikan pemahaman kesehatan sengaja diberikan agar siswi paham apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan. Termasuk kesehatan reproduksi.

“Setiap bulan anak perempuan pasti datang bulan, nah apa saja yang harus dilakukan agar lancar, tetap bugar dan sehat selama pelajaran,” katanya.

Agar tetap vit, sebaiknya siswi lebih banyakan sayur, terutama sayuran berwarna hijau, selain bayak minum air putih tentunya.

Jika ada yang tidak suka sayur dapat disiasati dengan membuat cake wortel, sawi, bahkan es krim kelor seperti yang sudah dikembangkan selama ini.

“Jadi tidak ada alasan anak tidak mau sayur. Mungkin orang tua yang kurang kreatif,” terangnya.

Dari pembelajaran ini pula, sejumlah wali murid turut memanfaatkan hasil belajar anaknya. Melalui resep Bu Reni es krim kelor dan roti wortel penjadi menu andalan di kantin. (tqi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *