Kantongi Sertifikasi CU, Akhir Tahun 2018 Beras Organik Bondowoso Bakal Diekspor

oleh

 

 

Kepala Grup BI Jatim, Harmanta memaparkan keterlibatan Bank Indonesia menunjang Gapoktan Al Barokah Bondowoso

 

BONDOWOSO, kilasjatim.com: – Kelompok Tani Al Barokah tergabung dalam Bondowoso Petani Organik (Botanik) desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso binaan KPw Bank Indonesia Jember menghasilkan produksi beras organik tiga jenis putih, merah dan hitam patut berbangga. Pasalnya hasil produksi beras organik yang dirintis sejak tahun 2014 lalu berhasil mengantongi sertifikat berstandar internasional yang dikeluarkan Control Union (CU) pada Maret 2018 lalu.

Beras organik Botanik dari Bondowoso siap untuk menembus pasar ekspor. Hal itu dilakukan setelah beras produksi Gapoktan Al Barokah dari Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari itu mendapatkan sertifikat internasional yang kualitasnya bisa sejajar dengan beras-beras dari negara lain.

Proses membuat pasar ekspor dilakukan dengan mengirimkan contoh produk ke Hongaria dan Belgia. Diperkirakan akhir tahun ini ekspor sudah bisa dilakukan.

“Untuk pasar ekspor minimal 25 ton untuk sekali kirim.
Saat ini lahan di Kabupaten Bondowoso itu baru 20 hektar yang lolos sertifikasi internasional dari 160 hektar lahan pertanian organik ini. Sehingga produk yang bisa diekspor hanya dari lahan yang sudah disertifikasi,” kata
Prof Indar Prihatini, pendamping pertanian organik, dari Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (23/8/2018)

Sementara itu, Mulyono, Ketua Gapoktan Barokah menjelaskan saat ini produksi pertanian organik berasal dari 400 petani di desa ini mencapai tujuh hingga delapan ton per hektar.

“Pendapatan petani juga meningkat tajam. Jika sebelumnya pendapatan petani Rp 26 juta per hektar kini mencapai Rp 38 juta per hektar. Saat ini beras organik dari desa kami sudah membuat pasar daerah lain di Indonesia seperti Kalimantan dan Sulawesi sebagian menembus Timor Leste,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, Munandar menjelaskan keberadaan Gapoktan Al Barokah ini mendapat support dari pemerintah setempat.

“Untuk kelangsungannya kita sudah anggarkan APBD Rp 2 miliar. Tapi karena kemampuan pemerintah terbatas ya kami berusaha mendorong agar Gapoktan ini bisa mendiri,” jelas Munandar.

Pemerintah daerah tidak akan membiarkan Gapoktan Al Barokah berjalan sendiri dan berharap pihak dari Bank Indonesia (BI) serta perusahaan lain ikut membantu memfasilitasi minta bantuan ke pusat (kementan) RI maupun pemerintah provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, Kepala Grup BI Jatim, Harmanta mengatakan BI mendukung semua kegiatan pertanian. Sehingga bisa dihasilkan swasembada pangan di Jawa Timur.

“Kita juga dorong petani tidak hanya bisa menjual gabah tapi bisa mengolahnya sendiri menjadi beras,” papar Harmanta. (kj2)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *