Dengan Prokes Ketat, Omset Mitra UMKM Kuliner Terbantu GoFood

oleh

 

KILASJATIM.COM, MALANG – Pandemi Covid-19 memukul usaha kuliner di berbagai lini. Dari rumah makan besar, warung kaki lima hingga penjual rumahan bermodal dapur. Omset penjualan menurun hingga 50 persen.

Berbagai upaya telah ditempuh. Dari penutupan sementara, pengurangan karyawan hingga pemberian diskon atau promo pada aplikasi daring seperti Go Food.

Siti Yulia, pemilik warung Tahu Lontong dan Tahu Telur Mbak Yuli di Jl. Kaliurang, Kota Malang.

Menurutnya puncak penurunan penjualan terjadi pada Maret – April, penurunan sampai 70 persen. Baik penjualan langsung datang ke warungnya, maupun penjualan melalui aplikasi daring seperti Go-Food dalam aplikasi Go Jek.

“Awal korona sekitar Februari. Itu masih belum terasa. Begitu bulan berikutnya. Wah jangan ditanya. Ngedrop. Tapi saya masih bersyukur ada go food, bisa menutup target penjualan dan uangnya bisa ditabung,” katanya, saat di jumpai di warung Senin (19/10).

Penjual tahu lontong yang sudah membuka usahanya lebih dari 15 tahun ini menceritakan, ia belum genap setahun bergabung di aplikasi go food. Meski ia sudah mendaftar lama. Usahanya terdaftar pada aplikasi tersebut sejak awal Februari, bersamaan dengan korona masuk ke Indonesia.

Keterlibatannya dalam berjualan daring, karena permintaan pelanggan yang rumahnya jauh. Di masa PSBB jualan daring sangat membantu, sebab orang takut keluar rumah. Selain, mencoba mencari pasar baru yang selama ini belum pernah menjajal masakannya.

“Ibaratnya coba-coba, sekaligus buat promosi. Ternyata ya ada saja pelanggan baru yang tahunya lewat aplikasi di go food, Alhamdullah ada hasil, ” ceritanya.

Pelanggan lama umumnya memesan tahu lontong. Melalui aplikasi go send. Sebab pelanggan tersebut lebih suka telepon langsung atau w-a, memesan tahu bumbu dengan embel-embel minta ditambahi garam atau cabe.

Awalnya, ibu dua anak ini mengaku, sempat bingung berdagang daring. Sebab jualannya habis tapi uang yang diperoleh tidak sebanyak biasanya. Dalam berdagang konvensional jumlah uang yang diperoleh sama dengan jumlah dagangan yang di jual.
Setelah ditelusuri, ia baru tahu, kalau tahu lontong yang dipesan melalui aplikasi, uangnya langsung masuk ke rekening tabungan, bank.

“Awalnya saya marah dan curiga sama suami. Jangan-jangan uangnya di pakai diam-diam. Setelah saya telusuri ketemu dan jadi tabungan. Tidak saya ambil kalau tidak mendesak. Sejak itu jadi punya tabungan,” kisahnya sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.

Dari penjualan on line, dalam tiga bulan ia bisa mempunyai tabungan Rp. 3 sampai Rp 4 juta an. Nah dari sana ia. Menyadari jika keuntungan lain berjualan on line, selain promosi juga untuk menabung. Sebelumnya ia mengaku kesulitan menyisikah uang untuk nabung.

Dan di musim pandemi semacam ini, jualan melalui aplikasi sangat membantu menutup target penjualan. Jika target berjualan 100 bungkus sehari, saat korona orang yang beli langsung hanya setengahnya, sisanya laku dipesan melalui aplikasi.

“Jika tidak ada aplikasi go food, mungkin saya lebih berat jualannya. Apalagi sekarang. Musim pencet-pencet makanan sampai rumah. Mau tidak mau harus mengikuti jaman,” ungkapnya.

Dari sini ia menyadari, sekaligus menyarankan pada pedagang lain agar mendaftar jualan daring. Meski terjadi pandemi usaha masih bisa berjalan.
Sementara, Maharani pemilik dan penggelolah Kedai Pakcik Abin Melayu Food & Drink Jl.Terusan Kendalsari, Malang mengaku bersyukur memiliki karyawan yang solid, meski usahanya sempat terpukul dan tutup beberapa bulan.

“Untuk mempertahankan karyawan, agar kedai tetap beroperasi. Kami menggunakan sistem keterbukaan. Berapa pengeluaran buat belanja, berapa pendapatan per hari. Semua kami sampaikan lewat w-a grup,” kata pemilik kedai yang juga pemilik usaha rice bowl Mak Har, Senin (19/10).

Langkah ini sengaja dilakukan, sebab delapan karyawannya tidak mau di phk. Sementara ia sendiri tidak sanggup memberi gaji seperti sebelum ada pandemi. Bahkan para karyawan lah yang memberi semangat, agar kedai yang tutup sejak Maret-Juni dibuka kembali. Meski dengan sistem gaji bagi hasil.

Penutupan kedai dilakukan, karena aturan PSB, Pemkot Malang yang membatasi jam operasional, hanya sampai pukul 20.00. Jika melanggar izin usaha akan dicabut. Sementara jam tersebut jam rame-ramenya pengunjung. Begitu pula pemesanan melalui aplikasi Go Food dalam Go Jek, pada jam-jam tersebut jumlah pemesan lebih banyak. Karena orang malas keluar untuk makan.
Karena desakan karyawan dan kondisi Malang yang lebih baik, setelah berakhirnya PSBB maka awal Juli lalu, usahanya dibuka kembali. Dengan aturan protokol kesehatan, jaga jarak, pakai masker dan mengukur suhu tubuh.

Maharani, menyampaikan membuka usaha di tengah pandemi dan kondisi ekonomi seperti sekarang jauh lebih sulit dibanding tahun lalu. Di mana daya beli menurun. Orang yang biasa membeli masakan kini masak sendiri, karena bekerja dari rumah. Mahasiswa yang menjadi pelanggannya pulang kampung.

Sedang mengandalkan penjualan on line pun tidak seramai dulu. Kalau pun ramai saat ada promo, potongan harga. Itu pun tidak bisa dilakukan setiap hari.

“Jadi setiap bulan gaji mereka tidak sama. Kalau lagi rame ya gaji mereka lebih. Kalau sepi ya, mereka sadar sendiri. Yang penting masih bisa bekerja,” ceritanya.

Sementara, usaha lain yang ia kelola lewat dapur dan hanya dijual daring dengan brand Mak Har, berupa nasi daging, paru, ayam, babat bercita rasa pedas sudah di tutup lebih dulu sejak awal korona hingga kini.

Penutupan ini, selain karena berkurangnya pembeli, juga sebab lain. Diantaranya menunggu pandemi korona selesai.

Baginya menutup sementara brand Mak Har, dirasa lebih mudah karena ini usaha yang di kelola sendiri tanpa melibatkan karyawan. Jadi tidak ada yang dirugikan. Sementara mengisi waktu luang, ia gunakan untuk mencoba resep menu baru. Jika sewaktu-waktu kondisi ekonomi membaik dan korona berlalu. Ibu tiga anak ini akan membuka usahanya kembali.

Dampak corona pun dirasakan Fathul, warga Pakis, Kabupaten Malang yang bergabung dengan Go Jek, sejak tiga tahun lalu. Awal korona masuk Malang ia sempat libur, tidak ngojek, dilarang oleh keluarganya.

“Tidak mungkin kan libur terus. Pas pertama kerja, dapat penumpang jauh ke Tidar sana. Setelah itu sampai setengah hari tidak ada yang nyantol,” kata bapak dua anak ini.

Minimnya jumlah penumpang dan orderan mengantar makanan tidak membuatnya putus asah. Setiap hari ia tetap bekerja, berapa pun hasilnya ia syukuri. Sebab ia sadar dalam kondisi seperti ini semua orang khawatir ketularan kalau boncengan dengan orang tidak dikenal. Apalagi ketemunya hanya lewat aplikasi. Ditambah ada pemberitaan di media, katanya ada yang ketularan gara-gara pesan makanan on line. Tetapi bagaimana lagi, ia harus bertanggung jawab mencari nafkah keluarga.

“Paling penting kita diberi sehat. Untungnya orang sekarang sudah tidak takut seperti dulu. Orderan paling banyak mengantar makanan, meski ada penumpang satu-dua. Mungkin karena anak sekolah dan mahasiswa masih libur. Kalau sekolah sudah dibuka saya yakin pasti ramai lagi doakan ya,” katanya sambil pamit, mendapat panggilan order makanan.

Sebelum pergi, ia berharap agar keadaan segera membaik. Agar pemerintah segera membuka sekolah dan kampus yang tutup. Ia akui penumpang paling banyak datang dari anak sekolah dan mahasiswa. Mengingat Malang adalah kota pelajar dengan jumlah kampus yang banyak. Kj5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *