Bayu Airlangga-Gus Abid Dinilai Layak Maju di Pilwali Surabaya

oleh

Surabaya, kilasjatim.com: Duet Bayu Airlangga dan Abid Umar Faruq (Gus Abid) dinilai pantas maju dalam Pilwali Kota Surabaya 2020. Keduanya merupakan figur milenial punya kans bersaing dengan kader organik partai yang umumnya politisi senior.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menyebut sejumlah figur milenial yang pantas maju dalam kontestasi pilwali Surabaya. Diantaranya, Azrul Ananda, Bayu Airlangga dan Abid Umar Faruq (Gus Abid).

“Saya kira kalau diantara mereka berpasangan juga menjual. Contohnya Bayu-Abid yang sama-sama muda dan enerjik,” katanya di Surabaya, Jumat (28/12/2018).

Menurutnya, saat ini tren milenial dalam peta politik nasional. Fakta ini bisa dilihat dari banyaknya kepala daerah berusia muda yang terpilih di Pilkada 2018. Seperti terpilihnya Khofifah yang berpasangan dengan figur milenial, Emil Dardak di pilkada Jatim 2018.

Demikian pula di sejumlah daerah seperti Pamekasan dan Lumajang. Dua kader PKB, Baddrut Tamam dan Thoriqul Haq adalah kepala daerah terpilih yang mengusung isu milenial.

“Ke depannya, kami melihat tren milenial akan terus menguat. Karena itu, dalam Pilwali Surabaya 2020, figur milenial punya kans bersaing dengan kader organik partai yang umumnya politisi senior,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura ini menilai duet Bayu-Abid bisa merepresentasikan kekuatan Nasionalis dan Religius. Sebab, Bayu adalah kader Partai Demokrat. Sedangkan Gus Abid adalah kader Ansor dengan basis pesantren berpengaruh di Jatim.

Kedua figur ini, lanjutnya, juga punya modal politik besar. Bayu yang merupakan menantu Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo tentu punya kans mendapatkan rekom. Demikian pula dengan Gus Abid yang sekarang menjabat Ketua GP Ansor Jatim.

Selain itu, Gus Abid memiliki hubungan baik dengan elit partai NasDem. Salah satunya, Ketua DPP NasDem, Hasan Aminuddin. “Meski muda Bayu dan Abid punya modal politik besar. Artinya peluang untuk mendapat rekom pun terbuka,” ujar peneliti Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Surokim menambahkan, soal elektabilitas keduanya memang masih di angka satu digit. Namun, masih ada waktu untuk melakukan sosialisasi dan melakukan branding. Terlebih di Kota Surabaya yang tingkat baca dan melek teknologinya sangat tinggi.

Karena itu, keduanya masih cukup waktu mensosialisasikan diri di media massa maupun media sosial (medsos). Dengan strategi yang tepat, elektabilitas mereka akan terdongkrak.

“Mas Emil itu pertama running pilgub Jatim elektabilitasnya cuma 2 persen. Namun kemudian bisa melesat menjadi 18 persen karena tepat dalam melakukan personal branding. Saya kira pasangan Bayu-Abid kalau running masih punya waktu untuk mendongkrak elektabilitas,” urainya.

Surokim mengingatkan, siapapun yang akan maju dalam Pilwali Surabaya harus menggandeng figur nahdliyin karena efek NU sangat signifikan. “Terbukti, dalam pilgub lalu pasangan Gus Ipul-Puti yang didukung PDI Perjuangan terjungkal oleh pasangan Khofifah-Emil yang representasi NU,” tegasnya. (Wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *