Bank Jatim Sang Penopang Sektor Agromaritim

oleh

Foto Istimewa

Surabaya, kilasjatim.com: Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang telah memberikan sumbangan bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Tak ayal, sektor pertanian, perkebunan dan perikanan atau agromaritim sejauh ini sangat berperan penting dalam menopang perekonomian Jawa Timur.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, pertumbuhan ekonomi Jatim pada semester I/2018 mengalami pertumbuhan 5,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada kuartal II saja, di sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makanan minum (mamin) sebesar 8,56%, diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 8,36%.

Secara kontribusi, sektor makanan dan minuman telah menyumbang 5,76% dan sektor pertanian menyumbang 12,37% dari PDRB Jatim.

Tingginya pertumbuhan sektor usaha mamin menunjukan bahwa Jatim memiliki potensi besar dalam mengembangkan sektor agromaritim dari hulu sampai hilir.

Ekonom Aviliani mengatakan kebutuhan pangan dalam beberapa tahun ke depan akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Terlebih lagi di tataran dunia, populasinya bisa mencapai 9 miliar jiwa sehingga sektor agroindustri yang termasuk di dalamnya agromaritim menjadi sektor paling potensial untuk berinvestasi.

“Pasar di sektor mamin ini pasti dan akan selalu ada. Ketika jumlah penduduk bertambah, kebutuhan pangan pun akan bertambah,” katanya.

Hanya saja, dalam pengembangan usaha pertanian, perkebunan, dan perikanan mulai hulu sampai menjadi produk siap konsumsi yang menghasilkan nilai tambah, diperlukan akses permodalan yang kuat dari perbankan.

Sebagai banknya masyarakat Jatim yang juga punya tugas untuk ikut memperkuat perekonomian daerah, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) pun tak ketinggalan untuk aktif menjemput segala potensi agromaritim yang ada.

Program hulu hilir agromaritim tersebut menjadi salah salah satu penyumbang kinerja penyaluran kredit Bank Jatim pada semester I/2018 yang mengalami pertumbuhan 5,34% atau tercapai Rp32,19 triliun. Sekitar Rp26 miliaran di antaranya merupakan capaian kredit di sektor agromaritim atau kredit program hulu hilir.

Direktur Utama Bank Jatim, R. Soeroso mengatakan progran agromaritim akan fokus dalam pemberian kredit kepada petani, pekerja kebun, juga nelayan agar produksinya memiliki nilai tambah dan tercipta entrepreneur baru di Jatim.

“Dalam program penyaluran kredit sektor agromaritim ini kami berkolaborasi dengan Pemprov Jatim agar bisa memetakan potensi calon-calon entrepreneur agromaritim yang ada,” ujarnya.

Dalam program agromaritim tersebut, Bank Jatim memberikan bunga single digit yakni 6% guna mendongkrak pertumbuhan ketiga sektor tersebut.

Diketahui pada Februari 2018, Bank Jatim telah memulai menyalurkan kredit pertanian dalam program hulu hilir dari dana bergulir sebesar Rp170 juta untuk gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Dana bergulir tersebut disalurkan kepada 78 petani padi di Sugihwaras dengan tujuan agar petani bisa membeli alat penggilingan padi sehingga menghasilkan nilai tambah yanh mencapai 52% dibandingkan hanya menjual gabah kering giling.

Direktur Ritel, Konsumer, dan Usaha Syariah Bank Jatim, Tony Sudjiaryanto menjelaskan dana bergulir dari Pemprov Jatim sebesar Rp100 miliar rencananya akan menyasar 5 kabupaten penghasil pertanian yakni Jombang, Kediri, Ngawi, Malang, Jember dan Tuban.

“Rencananya sebanyak Rp70 miliar akan disalurkan untuk sektor pertanian dan Rp30 miliar untuk sektor perikanan dan perkebunan, yang pastu bunganya rendah 6% dan maksimal pengembalian 3 tahun,” jelasnya.

Tony menambahkan diharapkan program hulu hilir Bank Jatim tersebut bukan hanya dapat meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mampu mengurangi tingkat pengangguran dengan optimalisasi sektor agrobisnis maritim di Jatim. Kj4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *