Anak Generasi Milenial Mudah Terpapar Bahaya Siber

oleh

 

Robert GardinerRobert, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia sebagai penyelenggara acara bersama saat mengedukasi siswa SDN Ketintang I Surabaya (18/04/2018).

 

 

*PJI dan Citi Indonesia Gencar Sosialisasi E Learning

SURABAYA, kilasjatim.com: Anak-anak yang lahir di tahun 2000-an termasuk generasi millenial dan paling mudah terpapar bahaya siber. Hasil survei yang dilakukan DQ Institute dan World Economic Forum, 71 persen anak Indonesia usia 8 hingga 12 tahun berisiko terpapar bahaya siber.

Bahaya siber iini seperti penindasan di dunia maya, kecanduan game, online grooming hingga pelecehan sosial.

“Karena anak-anak yang lahir di tahun 2000-an  yang termasuk generasi millenial, ini yang banyak terpapar bahaya siber,” ujar Psikolog Roslina Verauli di hadapan 150 orang tua wali murid SDN Ketintang I Surabaya, Rabu (18/04/2018).

Di acara ini Mbak Vera memberikan edukasi mengenai bagaimana memanfaatkan tehnologi di kalangan anak anak.
Seperti diketahui anak-anak Indonesia sudah mulai memegang gadget sejak usia dini. Karena kedua orang tua mereka juga sudah banyak menggunakan perangkat teknologi komunikasi itu.

Tapi apakah mereka sudah cerdas dalam menggunakan teknologi, jawabannya belum tentu. Vera pun lantas mengajak para orang tua untuk menonton video yang berisi anak-anak dari seluruh lapisan dunia.

Dari video itu Vera memberikan pertanyaan anak-anak dari negara mana yang membutuhkan teknologi sejak dini? Apakah dari Nigeria, Jepang, Simbabwe ataukah dari Amerika.

Jawabannya ternyata dari Jepang. Mengapa? Karena Jepang sudah sangat canggih dalam segala bidang. Jepang sudah menggunakan perangkat digital untuk semua lini kehidupannya.

“Karenanya semakin anak itu berada di lingkungan digital, maka anak semakin butuh teknologi sejak kecil. Karena dari sanalah nantinya anak-anak itu belajar,” paparnya.

Vera menegaskan, zaman sudah berubah. Pola pendidikan orang tua ke anak juga harus berubah. Kalau zaman dulu membaca buku sekarang sudah melalui e-book. Di mana sudah tidak lagi membeli buku secara fisik tapi buku online. “Kita harus mengikuti perkembangan zaman,” tuturnya.

Dikatakan Vera, orang tua tidak bisa bersikap antipati dan menutup total akses anak terhadap teknologi. Justru anak bisa saja mencari akses teknologi secara diam-diam dan terpapar informasi negatif yang tak diinginkan.

Bila handphone semakin pintar, maka orang tua pun harus semakin bijak. Aturlah waktu yang tepat dan batasi durasi pemakaian handphone pada anak-anak. Saat anak mengerjakan PR, ajak mereka untuk mencari materi atau contoh tambahan dari internet.

“Ayo bersikaplah terbuka dan positif, maka anak-anak pun dapat berkembang dengan baik bersama kemajuan teknologi,” jelasnya.

PsikologRoslina Verauli mengedukasi orang tua wali mutid mengenai bahayanya siber terhadap anak anak

 

 

Sementara itu, Robert Gardiner Management Advisor Prestasi Junior Indonesia sebagai penyelenggara acara bersama Citi Indonesia mengatakan, pihaknya mencoba memberikan program-program baru bagi para siswa di Indonesia.

“Konsep baru yang kami coba berikan adalah e-learning atau pembelajaran secara digital. Di mana kami ajarkan mereka belajar menggunakan tablet. Tidak lagi menggunakan buku untuk menulis. Ini yang coba kami sosialisasikan,” kata Robert seraya menambahkan, Prestasi Junior Indonesia dan Citi Indonesia bersama sama terus menyosialisasikan e-learning ini ke berbagai sekolah dasar di Indonesia. (kj4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *